Jombang (beritajatim.com) – Peternak di Kabupaten Jombang sedang gundah. Pasalnya, wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang sebelumnya sudah reda, kini muncul lagi. Bahkan wabah tersebut sudah menjangkiti ratusan sapi di Jombang dalam dua bulan terakhir ini.
Plt Kepala Dinas Peternakan Jombang M Saleh mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir ada 323 kasus PMK. Detailnya, 282 kasus terjadi pada Desember 2024 dan 41 kasus terjadi di Januari 2025.
“Dari jumlah 323 kasus PMK, 231 ekor sapi saat ini masih sakit. Sementara 31 ekor terpaksa disembelih dan 11 ekor mati mendadak. Sedangkan yang sembuh dari PMK ada 50 ekor,” kata M Saleh, Minggu (5/1/2025).
Di mana saja penyebaran PMK itu? Saleh mengungkapkan, penyebaran PMK yang massif terjadi di 19 kecamatan di Kabupaten Jombang. “Ada dua kecamatan yang bebas PMK atau zona putih. Yaitu, Kecamatan Perak dan Kecamatan Tembelang,” lanjutnya.
Saleh merinci, kasus PMK yang paling banyak adalah di Kecamatan Jombang dan Jogoroto. Saleh juga mengungkapkan sejumlah factor yang menyebabkan penyebaran PMK masif terjadi dalam dua bulan terakhir.
Di antaranya, factor pergantian musim dari kemarau ke hujan dan soal vaksinasi. Musim hujan menjadi pemicu tigginya kelembaban. Sehigga kekebalan hewan menurun. Sehingga hewan ternak mudah terjangkit penyakit.
Sedankan faktor vaksinasi, menurut Saleh, idealnya vaksinasi dilakukan 6 bulan sekali dengan skala cakupan 80 persen populasi wilayah atau daerah tertentu. “Namun saat ini masih rendah karena kemunculan PMK begitu cepat,” urainya.
Upaya Penanganan

Dinas Peternakan Jombang melakukan berbagai upaya untuk menurunkan jumlah hewan yang terserang PMK. Pertama, semua petugas wajib mnenindaklanjuti ketika ada laporan dari masyarakat terakit wabah PMK.
Kemudian, kedua, melakukan eliminasi penyebaran virus. Baik itu di kandang maupun di tempat penampungan ternak, seperti di rumah potong maupuan pasar. Slanjutnya, melakukan penyemprotan disinfektan.
“Tidak ada gejala baru PMK. Gejala utama PMK masih seperti beberapa tahun lalu. Yakni, sapi mengalami demam. Kemudian kedua mulut berliur dan luka-luka di mulut serta sakit di kaki,” beber Saleh.
Gempuran wabah PMK ini dikhawatirkan menggeruskan populasi sapi di Kabupaten Jombang. Pasalnya, populasi sapi potong di Kabupaten menunjukkan angka siginifikan. Tercatat, hingga Oktober 2024, populasi sapi di Jombang tembus 62.409 ekor. Hewan berkaki empat tersebut tersebar di 21 kecamatan.
Praktis, Kabupaten Jombang menjadi penyangga produksi daging di Jawa Timur. Artinya, wabah PMK jika tidak tertangani dengan baik tidak akan menggerus populasi sapi dan produksi daging di Kabupaten Jombang. [suf]






