Sampang (beritajatim.com) – Cuaca yang tak menentu membuat sebagian petani di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, memilih untuk menunda penanaman tembakau. Padahal, pada musim kemarau seperti ini biasanya para petani sudah mulai mengolah lahan untuk tanaman unggulan tersebut.
Damhuji, salah satu warga setempat, mengatakan bahwa ketidakpastian iklim membuat petani enggan mengambil risiko. Meskipun demikian, sebagian warga tetap melakukan aktivitas persiapan seperti membuat widik, yakni rak bambu untuk mengeringkan tembakau pascapanen.
“Cuaca saat ini tidak menentu, membuat warga belum menanam tembakau,” ujarnya, Senin (9/6/2025).
Menurut Damhuji, meski belum menanam, widik yang sudah jadi tetap bisa dijual ke petani lain yang lebih dulu memulai musim tanam. Harga satu widik mencapai Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu, sehingga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Harga widik bisa mencapai Rp 40-45 ribu per biji, jadi ini bisa menjadi penghasilan alternatif bagi saya sendiri,” ungkapnya.
Ia berharap kondisi cuaca segera membaik agar musim tanam tembakau bisa berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tembakau masih menjadi komoditas utama yang diandalkan petani di wilayah tersebut untuk meningkatkan pendapatan.
“Dengan demikian, mereka bisa mendapatkan hasil yang maksimal dari tanaman tembakau itu sendiri,” tutup Damhuji. [sar/beq]






