Gresik (beritajatim.com) – Petani Gresik mengubah bantaran Kali Lamong menjadi lahan menanam sayuran. Selain jadi tanah produktif, upaya tersebut juga untuk mengurangi dampak banjir akibat luapan air sungai.
Para petani Gresik asal Desa Kalipadang, Kecamatan Benjeng ini memilih sayuran lantaran masa tanamnya cukup pendek yaitu 30 hari. Apalagi, permintaan akan sayuran terus meningkat dan setiap panen, mereka mampu menghasilkan Rp12 juta.
“Kami menanam berbagai jenis sayur-mayur seperti bayam, kangkung, dan sawi di bantaran Kali Lamong,” ujar Agung Saputro (27), salah satu petani asal Desa Kalipadang, Selasa (17/01/2023).
Agung menceritakan, warga desanya yang berdekatan dengan bantaran Kali Lamong sebagian besar berprofesi sebagai petani sayur-mayur. Tidak heran bila sepanjang bantaran sungai serta lahan di depan rumah ditanami sayuran.
“Dulu petaninya didominasi oleh orangtua, sekarang image-nya berubah banyak pemuda seperti saya terjun sebagai petani. Ini karena keuntungan hasil dari panen menjanjikan,” ungkap Agung.
Produk sayuran hasil petani Desa Kalipadang tidak hanya diminati dari warga Gresik saja. Warga dari luar seperti Surabaya, Sidoarjo serta Lamongan biasanya datang langsung untuk membeli sayuran yang masih segar.
Sebelumnya, Desa Kalipadang menjadi langganan banjir. Namun, warga setempat tidak patah semangat.
Dengan bergotong-royoong, mereka membangun waduk tadah hujan. Waduk itu diandalkan sebagai irigasi mengairi lahan tanaman sayur-mayur.
“Waduk yang kami bangun tidak hanya buat irigasi saja tapi juga untuk menampung air buat warga saat musim kemarau,” papar Agung.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Gresik”]
Saat ditanya mengenai pemupukan, Agung bersama kelompok petani memanfaatkan tanaman lamtoro gong yang diolah sebagai pupuk organik.
“Inovasi itu kami lakukan dengan dibantu kepala desa. Bahkan, untuk penyemprotannya memanfaatkan teknologi (Sprinkle) yang dapat berputar 360 derajat,” katanya.
Kepala Desa (Kades) Kalipadang Candra Prasetya Suwandi menyatakan selama ini kendala yang dihadapi petani adalah irigasi. Petani sangat bergantung pada waduk tadah hujan.
Sewaktu musik kemarau datang, petani kesulitan menanam sayuran. Karena pasokan air untuk penyiraman sayuran makin menipis.
“Harapannya ada ketersediaan sumur bor. Sebab, produktivitas petani terganggu saat musim kemarau. Dengan adanya sumur ini petani bisa panen dua kali lipat,” katanya.
Ke depan, Candra punya cita-cita membangun wisata edukasi agro sayur. Destinasi wisata baru bakal menarik wisatawan karena akan diajari bagaimana menanam sayuran sampai panen.
“Wisatanya kami beri nama wisata agro petik sayur mohon doanya semoga cita-cita kami bisa terwujud,” pungkas Chandra. [dny/beq]





