Jember (beritajatim.com) – Kurang lebih 100 orang petani dan nelayan di Kabupaten Jember, Jawa timur, menjadi siswa Sekolah Lapang Iklim dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Kecamatan Puger..
“Tujuan sekolah lapang itu adalah bagaimana nelayan dan petani memahami manfaat cuaca dan informasi iklim untuk kepentingan mereka,” kata Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, usai acara pembukaan di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa (8/8/2023).
Kegiatan sekolah lapang ini digelar secara daring maupun luring di Kecamatan Puger melalui zoom meeting, dan diikuti petani, nelayan, penyuluh pertanian, kelompok nelayan, dan beberapa pemangku kepentingan terkait.
Dengan pemahaman tersebut, Guswanto mengatakan, nelayan diharapkan bisa meningkatkan produktivitas hasil tangkapan dan petani meningkatkan produktivitas panen di sawah. “Misalkan padi bisa 15 – 27 ton per hektare seperti di Jepang,” katanya.
“Di samping meningkatkan produktivitas, (informasi dan pemahaman soal) cuaca ini untuk keselamatan mereka. Juga bisa dimanfaatkan untuk perencanaan berlayar. Misalkan berlayar tak hanya dua tiga harim bisa tidak meniru nelayan di kabupaten yang lain seperti Juwana yang bisa tiga empat bulan di laut,” kata Guswanto.
Guswanto mengatakan, program sekolah lapang ini mendukung program ketahanan pangan. “Kita menyukseskan program Kabupaten Jember, wis wayahe mandiri pangan dan pupuk. Itu yang penting,” katanya.
Sementara itu, Bupati Hendy Siswanto meminta para peserta sekolah lapang iklim dan sekolah lapang cuaca serius belajar. “Jika ada yang kurang di mengerti, mohon ditanyakan. Karena Ini sangatlah bermanfaat ilmunya dan mohon diteruskan ilmunya kepada nelayan lainnya,” karanya,
Hendy menegaskan, Pemkab Jember akan mendukung anggaran acara ini. “Wes wayahe Jember mandiri pangan dan pupuk,” katanya. [wir]






