Blitar (beritajatim.com) – Program pelatihan keterampilan yang digulirkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar lewat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) terbukti bukan sekadar formalitas anggaran. Dampak ekonominya mulai dirasakan nyata oleh para pelaku usaha kecil, salah satunya Luluk, warga Kelurahan/Kecamatan Garum.
Setelah mengikuti pelatihan pengolahan makanan selama 10 hari tahun ini, Luluk mengaku usaha katering rumahan miliknya mengalami peningkatan signifikan. Ilmu teknis soal bumbu dan penyedap rasa yang ia dapatkan, sukses menyulap cita rasa masakannya menjadi lebih “menjual”.
“Menurut saya sangat bermanfaat sekali. Banyak ilmu baru, contohnya penggunaan penyedap yang pas untuk meningkatkan rasa. Alhamdulillah, sekarang pesanan katering saya semakin ramai,” ungkap Luluk dengan wajah sumringah, Sabtu (22/11/2025).
Namun, di balik kisah suksesnya, Luluk menitipkan catatan kritis untuk Pemerintah Kabupaten Blitar. Sebagai pelaku usaha yang merasakan langsung manfaat program ini, ia menilai ada regulasi yang perlu direvisi agar dampak DBHCHT lebih inklusif, yakni soal batasan usia peserta.
Luluk menyentil kebijakan yang kerap membatasi usia peserta pelatihan hanya sampai 24, 30, atau maksimal 35 tahun (usia produktif muda). Padahal, menurutnya, beban ekonomi terberat justru dirasakan oleh kelompok usia 40 hingga 50 tahun.
“Justru yang umur 40–50 tahun itu pengeluarannya semakin banyak, apalagi untuk biaya sekolah anak. Yang butuh pemasukan bukan hanya anak muda. Pemerintah harus melihat realitas ini,” kritiknya membangun.
Ia berharap ke depan Disnaker bisa memperluas jangkauan peserta, sehingga ibu-ibu rumah tangga di usia matang yang menjadi tulang punggung keluarga juga bisa mengakses peningkatan skill tersebut.
Selain soal usia, Luluk juga menyoroti kurikulum pelatihan. Ia mengusulkan agar materi ke depan tidak melulu soal produksi, tetapi juga dilengkapi dengan strategi pemasaran (marketing).
Baginya, kemampuan menciptakan produk lezat akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan kemampuan menjual.
“Kalau bisa, ada tambahan materi marketing. Soalnya kalau kita bisa buat produk tapi nggak bisa menjual, ya percuma. Paling-paling hanya dipakai sendiri,” tambahnya.
Terlepas dari masukan tersebut, Luluk yang baru pertama kali mencicipi fasilitas pelatihan pemerintah ini mengaku puas. Ia berharap program DBHCHT terus berlanjut karena terbukti mampu menjadi tangga bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas.
“Saya harap masih bisa ikut lagi. Semoga pelatihannya terus berkelanjutan biar ilmu kami makin bertambah,” pungkasnya. (Owi)






