Lamongan (beritajatim.com) – Perajin songkok di Kabupaten Lamongan banjir pesanan saat Ramadhan. Terjadi kenaikan pesanan hingga 80 persen.
Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Niken Anggraini (21), salah satu perajin songkok di Desa Pengangsalan, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan. Dia mengaku mendapatkan berkah sejak awal Ramadhan tahun ini.
“Hari-hari biasa kami mampu kirim 10 kodi atau sebanyak 200 songkok. Saat Ramadhan seperti sekarang ini permintaan naik hingga 80 persen, jika dihitung dalam sehari bisa memenuhi pesanan konsumen sebanyak 20 kodi atau 400 songkok,” ungkap Niken, Jumat (31/3/2023).
Niken berkata, usaha produksi songkok ini telah lama dia jalankan bersama kakaknya. Mayoritas warga Desa Pengangsalan juga merupakan perajin songkok yang sudah memulai usahanya sejak puluhan tahun lalu.
Berkat keuletan dan kegigihan dalam menjalankan usahanya, kini omset yang mampu dihasilkan Niken bersama saudaranya dari penjualan songkok tersebut mencapai puluhan juta rupiah.
“Untuk harga, kami tidak mematok harga tinggi. Semua songkok dijual mulai Rp26 ribu hingga Rp70 ribu, tergantung kualitas bahannya,” ujarnya.
Diterangkan Niken, seiring dengan naiknya permintaan songkok tersebut, kini kesibukannya pun semakin bertambah. Ia bersyukur lantaran momen Ramadhan tahun ini tak seperti dua tahun sebelumnya saat Covid-19 masih mewabah.
Baca Juga:
Berkah Ramadhan, Penjahit Rumahan Lamongan Banjir Pesanan
Kala itu, pandemi Covid-19 telah membuat produksi songkok di Desa Pengangsalan yang dikenal sebagai sentra produksi songkok di Lamongan itu bahkan turun drastis. Atas kenyataan ini, banyak pengrajin songkok yang merubah strategi bisnisnya agar mampu bangkit dari pandemi, tak terkecuali Niken dan kakaknya.
“Saat pandemi Covid-19 berlangsung kala itu, permintaan songkok memang menurun drastis, padahal usaha ini sudah kami tekuni selama bertahun-tahun,” kata Niken yang masih berstatus mahasiswi itu.
Strategi bisnis yang dimaksud adalah dengan melakukan inovasi atau mengubah pola pemasaran untuk songkok produksi mereka, dari yang tadinya secara tradisional menjadi berbasis teknologi.
“Karena pandemi, kami lalu mulai berinovasi dalam memasarkan songkok produksi kami. Kami melakukan penjualan secara online dengan memanfaatkan platform marketplace yang banyak tersedia. Selain itu, kami juga membuka toko online untuk melayani penjualan songkok,” terangnya.
Baca Juga:
Mazoola dan WBL Jadi Lokasi Favorit Rekreasi Saat Ramadhan
Menurut Niken, penjualan atau pemasaran songkok dengan memanfaatkan teknologi melalui marketplace secara daring itu ternyata membuat omset produksi songkoknya laris manis. Songkok Desa Pengangsalan itu pun kini tak hanya menjamah pasar di penjuru tanah air, namun juga hingga ke luar negeri.
“Alhamdulillah, kalau di rata-rata, pelanggan kami datang dari seluruh penjuru tanah air. Kalau ke luar negeri, kami ada pelanggan dari Arab saudi,” sebutnya sembari menginput resi atau tanda kirim songkoknya kepada para pelanggan.
Lebih lanjut Niken berharap, usaha kerajinan songkok yang menjadi mata pencaharian utama keluarganya ini bisa terus bertahan dan ramai.
“Kerajinan songkok juga mata pencarian utama masyarakat desa kami. Untuk itu kami berharap kerajinan songkok ini tetap bertahan dan kami mampu berinovasi karena menjadi mata pencarian turun menurun,” harapnya. [riq/beq]






