Jombang (beritajatim.com) – Iring-iringan belasan anak muda membelah Jl Wahid Hasyim Jombang, Minggu (30/10/2022). Mereka mengenakan pakaian ala prajurit kerajaan. Anak-anak muda itu mengenakan pengikat kepala. Mereka juga membawa umbul-umbul yang berwarna ijo dan abang (hijau dan merah).
Pada bagian lainnya, sejumlah perempuan juga berpakaian ala prajurit. Namun mereka mengenakan hiasan kepala menyerupai tanduk kerbau. Anak-anak muda ini membawa selembar kain warna hitam. Mereka berlenggak-lenggok menari mengikuti alunan irama gamelan. Lalu di deretan paling belakang ada dua patung berukuran besar. Satu patung berupa manusia berkepala kerbau dan mengenakan baju hijau. Satu lagu patung pendekar berbaju merah.
Saat di depan panggung kehormatan, rombongan ini unjuk kebolehan. Mereka memainkan drama kolosal. Ada pertarungan dua orang yang mengenakan baju bangsawan. Satu membawa keris, satu lagi tangan kosong. Mereka berduel hingga keduanya roboh tak berdaya. Drama kolosal ini disaksikan oleh Bupati Jombang Mundjidah Wahab dan Wabup Sumrambah serta pejabat lainnya yang berada di panggung kehormatan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”majapahit”]
Drama yang diceritakan tersebut merupakan pertarungan antara Kebo Kicak melawan Surontanu. Legenda Kebo Kicak itulah yang melekat di masyarakat Jombang. Karena melalui pertarungan ini memunculkan nama-nama desa yang ada di Kabupaten Jombang. Kebo Kicak dengan Surontanu sebenarnya masih ada hubungan keluarga. Namun karena perbedaan prinsip, keduanya pun bertarung. Mereka beradu kesaktian. Hingga akhirnya dua pendekar ini roboh tak berdaya.
Legenda Kebo Kicak ini ditampilkan oleh rombongan dari SMPN 4 Jombang dalam gelar ‘Jombang Culture Carnival’. Selain sekolah tersebut, ada 25 kelompok lainnya yang menampilkan budaya lokal atau budaya Jombangan. Tentunya dengan tema dan pesan berbeda. Semisal regu dari Srikandi Pemuda Pancila menampilkan tradisi ‘Kumkum Sinden’, kemudian SMKN 3 Jombang yang membawakan tema ‘Topeng Jatiduwur’.
Topeng Jatiduwur dan Gambus Misri

Kesenian topeng ini berasal dari Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Wayang topeng yang tumbuh dan berkembang selama ratusan tahun ini pertama kali dikenalkan oleh Ki Purwo pada akhir abad 18 atau awal abad 19. Topeng Jatiduwur memiliki ornamen di dahi bergambar kelopak bunga matahari. Nah, ornamen ini memiliki kemiripan bentuk dengan lambang Kerajaan Majapahit, Surya Majapahit.
Selain itu, pementasan Wayang Topeng Jatiduwur memiliki dua lakon pakem atau cerita asli. Masing-masing Patah Kuda Narawangsa dan Wiruncana Murca. Keduanya menampilkan dua tokoh utama, Panji Asmorobangun atau Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji, dengan latar belakang masa kerajaan Daha (Kediri) dan Jenggala.
Bukan hanya budaya yang lahir era kerajaan, dalam ‘Jombang Culture Carnival’ juga ditampilkan seni Gambus Misri. Yang membawakan tampilan ini adalah grup Gambus Misri ‘Bintang Sembilan’ dari Dusun Kedungsari, Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito. Tema yang diangkat adalah kisah perjuangan KH Hasyim Asy’ari. Dalam barisan tersebut nampak beberapa orang yang berdandan ala tentara Jepang.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ludruk”]
Di depan panggung kehoramatan, grup Gambus Misri menyanyikan lagu ‘Selamat Datang’. Seluruh peserta bergoyang gemulai mengikuti irama gambus. Tentu saja, Bupati Jombang memberikan aplaus untuk peserta dari Kecamatan Sumobito ini. Untuk diketahui, Gambus Musri tumbuh subur di Kabupaten Jombang pada era 1960-an. Adalah Asfandi orang yang pertam kali merintis kesenian ini. Asfandi merupakan ayahanda dari Asmuni asal Kecamatan Diwek Jombang, yang tak lain pelawak Srimulat.
Jika ludruk lahir dari komunitas abangan, maka Gambus Misri lahir dari komunitas santri. Ludruk menggunakan gamelan, Gambus Misri memakai musik Melayu setengah Arab. Ludruk mengambil lakon-lakon tradisional Jawa, sedang Gambus Misri menyuguhkan tema-tema sejarah Islam.
Dipadati Ribuan Pengunjung

Pawai budaya Jombang atau Jombang Culture Carnival ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Jombang. Apalagi selama dua tahun terakhir ini mereka tidak disuguhi hiburan akibat pandemi. Maka tidak heran, di sisi kanan dan kiri Jl Wahid Hasyim Jombang, para penonton menyemut. Mereka menikmati setiap tampilan dari peserta.
Start dimulai dari perempatan PLN Jombang. Seluruh peserta berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer. Arak-arakan ini berakhir di Alun-alun Jombang. Di tempat tersebut para peserta diberi kesempaatan untuk unjuk kebolehan selama 5 menit. Tepatnya di depan panggung kehormatan. Setelah itu, peserta sampai di garis finish.
Bupati Jombang Mundjidah Wahab menjelaskan, pawai budaya dalam rangka Hari Jadi ke-112 Pemkab Jombang ini diikuti 26 peserta/regu. Mereka berasal dari sekolah, organisasi serta ada juga perbankan. Gelaran ini, kata Mundjidah, untuk mengenalkan budaya lokal Jombang kepada masyarakat luas. Sehingga publik tahu, meski Jombang dikenal sebagai kota santri, tapi juga memiliki budaya lokal yang luar biasa.
[berita-terkait number=”2″ tag=”mundjidah-wahab”]
Budaya lokal Jombang yang dimaksud Mundjidah di antaranya tradisi Grebek Suro, Unduh-Unduh yang merupakan tradisi mirip sedekah bumi yang dilaksanakan oleh GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang ada Bongserejo Diwek, kemudian Kecamatan Ngoro, serta di Kecamatan Mojowarno.
Lalu ada Kumkum Sinden (upacara ruwatan Sinden di Sendang Made Kecamatan Kudu), Majapahit, Legenda Kebo Kicak, kisah Dhamarwulan, Airlangga (Kahuripan), Mpu Sindok (Medang), Besutan (cikal bakal ludruk), serta Sandur Manduro. “Harapan kami, para generasi muda lebih mencintai budaya lokal warisan leluhur. Agenda ini akan kita gelar rutin setiap tahun,” pungkas Mundjidah. [suf]






