Pacitan (beritajatim.com) – Inovasi pertanian terus tumbuh di Kabupaten Pacitan. Di Dusun Bongkot, Desa Nglaran, Kecamatan Tulakan, sepasang suami istri, Sutarno (51) dan Titin Ekawati (47), berhasil mengubah lahan tidur menjadi pusat pertanian modern dengan sistem hidroponik.
Lahan seluas lebih dari satu hektar yang sebelumnya tak tergarap kini menjadi kawasan produktif. Dari total lahan itu, sekitar 480 meter persegi digunakan khusus untuk budidaya melon hidroponik, dengan jumlah tanaman mencapai 1.256 batang. Jenis melon yang ditanam adalah Intanon RZ dan Sweet Lavender, dua varietas unggulan yang dikenal memiliki rasa manis dan daya simpan tinggi.
“Kebetulan kita punya lahan warisan dari orang tua, lalu ada tambahan pembelian lagi. Karena prihatin dengan kondisi petani saat ini, saya coba mengembangkan pertanian dengan cara baru,” tutur Sutarno saat ditemui di lokasi kebun, Minggu (26/10/2025).
Meski baru pertama kali mencoba metode hidroponik, hasilnya dinilai cukup memuaskan. Tanaman yang mulai ditanam pertengahan Agustus lalu tumbuh subur dan kini mulai memasuki masa panen.
“Meskipun baru pertama, tapi sudah bisa dikatakan berhasil. Nanti untuk tanam kedua akan kami sempurnakan dari pengalaman pertama ini, terutama untuk menghadapi hama fusarium atau layu batang,” jelasnya.
Sutarno mengaku belum menghitung keuntungan dari panen perdana. Sebagian hasil panen justru dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk rasa syukur dan berbagi kebahagiaan. Sisanya dijual dengan harga lebih murah dari standar pasar agar lebih mudah dijangkau masyarakat sekitar.
Kepala Desa Nglaran, Triyono, yang turut meninjau lokasi, mengapresiasi langkah warganya tersebut. Menurutnya, inovasi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi petani lain untuk beralih ke pertanian modern yang lebih efisien dan menguntungkan.
“Ini bagus untuk dikembangkan bersama-sama. Kami akan mendorong masyarakat lain agar ikut meniru, sehingga nantinya bisa terbentuk kelompok tani modern dan pemasaran produk juga lebih mudah,” kata Triyono.
Ia menambahkan, selain memberi tambahan penghasilan bagi keluarga Sutarno, keberadaan kebun hidroponik juga berdampak positif bagi lingkungan sekitar. Beberapa warga ikut membantu proses perawatan tanaman, sementara banyak pengunjung dari desa lain datang untuk melihat langsung sistem pertanian modern ini.
“Banyak yang penasaran dan berkunjung ke sini. Desa jadi lebih ramai, dan ini bisa membuka peluang ekonomi baru,” pungkasnya. (tri/but)






