Ngawi (beritajatim.com) – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, dalam dua bulan terakhir membuat sejumlah petani cabai dan tomat mengalami gagal panen. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan banyak tanaman rusak bahkan mati.
Kondisi ini dirasakan para petani di Desa Brubuh, Kecamatan Jogorogo. Tanaman cabai keriting mereka rusak parah akibat curah hujan tinggi, sehingga sebagian petani hanya bisa memanen sisa buah yang masih layak jual.
“Banyak cabai yang busuk dan mati. Hasil panen turun drastis, bahkan untuk balik modal saja sulit,” ujar Muhtarom, Kepala Desa Brubuh, Kamis (23/10/2025).
Meski harga cabai keriting di pasaran masih tinggi, berkisar Rp38 ribu–Rp40 ribu per kilogram, hasil panen yang minim membuat petani tetap merugi. Di tingkat petani, harga jual bahkan turun menjadi Rp35 ribu per kilogram.
Nasib serupa dialami petani cabai rawit, yang harga di tingkat petani anjlok menjadi Rp20 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp35 ribu. Sementara harga di pasar turun dari Rp40 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram.
Tidak hanya cabai, tanaman tomat di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, juga terdampak. Banyak buah tomat yang membusuk di lahan akibat cuaca ekstrem. Harga di tingkat petani merosot tajam menjadi Rp1.500 per kilogram, dari sebelumnya mencapai Rp20 ribu per kilogram.
“Kalau cuaca seperti ini, kami bingung mau tanam apa. Tomat banyak yang rusak, harga juga jatuh,” kata Andang Riyadi, salah satu petani tomat setempat.
Pedagang sayur, Prapto, menyebutkan bahwa stok cabai dan tomat yang layak jual di pasaran mulai menurun. “Harga cabai keriting sekarang sekitar Rp38 ribu sampai Rp40 ribu, sedangkan tomat Rp4 ribu. Banyak tanaman yang rusak,” ujarnya.
Para petani dan pedagang berharap kondisi cuaca segera membaik agar tanaman bisa tumbuh normal kembali dan harga komoditas stabil. [fiq/beq]






