Tidak ada yang bisa dikenang atau dibicarakan dari pertandingan tandang Persebaya Surabaya melawan PSM Makassar di Stadion Batakan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (28/2/2024). Bukan hanya karena tidak ada satu pun gol yang tercipta oleh kedua tim selama 90 menit. Namun juga karena permainan Persebaya sama sekali tidak enak ditonton.
Diserang berkali-kali sejak menit awal oleh PSM, Persebaya jelas kalah superior. Serangan tidak tertata rapi. Operan berkali-kali keliru. Andhika Ramadani pun tidak pernah bisa memberikan operan jarak jauh dari gawangnya ke area permainan PSM dengan akurat.
Tidak terlihat sama sekali permainan bola dari kaki ke kaki. Tiada operan-operan pendek yang taktis antara sesama pemain Persebaya. Persebaya belum bisa melepaskan ketergantungan terhadap aksi individual Bruno Moreira. Saat Bruno dikawal ketat, maka berhenti juga serangan pemain-pemain Persebaya.
Seorang kawan mengatakan, Persebaya memainkan taktik sepak bola kuno kick and rush. Tendang ke depan dan bergegas lari. Namun saya mengatakan, Persebaya tidak memainkan kick and rush, tapi kick and panic. Tendang bola ke area permainan lawan semaunya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pemain depan bisa berlari mengejarnya untuk kemudian mencetak gol.
Tentu saja kick and rush tidak seceroboh itu. Tidak ada yang salah dengan operan bola-bola panjang yang menjadi ciri khas kick and rush. Persebaya bisa melakukannya jika memang mengharuskan. Ruud Gullit dalam buku How to Watch Soccer menegaskan, “A long ball is a tactical weapon and therefore part of the game”.
Namum, Gullit mengingatkan, kick and rush dengan bola-bola operan jarak jauh jauh dari sekadar tendang bola membabi buta dan menyerahkan sepenuhnya kepada striker untuk bekerja keras. Kalau itu yang dilakukan, itu sama saja menyiksa kawan satu tim. Gaji sama, kerja mereka lebih keras. Jelas tidak adil dan tidak bagus untuk struktur serangan tim.
Klub yang memang berminat menggunakan model kick and rush harus benar-benar berlatih keras agar semua operan dilakukan dengan akurat. Liverpool bukan penganut kick and rush. Namun mereka adalah contoh sebuah tim yang mampu memanfaatkan bola-bola panjang langsung dari daerah sendiri ke daerah pertahanan lawan untuk mencetak gol.
Beberapa kali hanya dibutuhkan dua kali sentuhan, dari kiper Alisson Becker ke penyerang sayap Mohamed Salah sebelum gol tercipta. Liverpool memainkan bola-bola pendek dengan pergerakan pemain merapat. Namun serangan-serangan dengan mengandalkan bola panjang bisa menjadi kejutan bagi lawan, terutama jika berhadapan dengan pemain berkecepatan tinggi seperti Salah.
Menurut Gullit, bola-bola panjang bisa menjadi awal pergerakan serentak pemain-pemain lain ke daerah pertahanan lawan. “It is vital to have one or more players up front who know how to receive a long ball while facing forward, to control the ball and keep it while surrounded by opponents.”
“If the forward can hang on to the ball, it gives midfielders the time to join the striker and to pass back and forth. Behind the midfielders, the defenders will move up too. It immediately places the other side under tremendous pressure in its own half.”
Masalahnya itu tidak tampak pada Persebaya saat melawan PSM. Saya rasa, Bonek tidak tahu dan tidak akan mau tahu taktik apa yang akan digunakan Paul Munster. Dengan sisa delapan pertandingan, menang adalah jawaban dari semua pertanyaan terhadap Persebaya hari ini. Menang. Menang. Menang. Tidak ada ruang untuk kesalahan, apalagi kekalahan. [wir]






