Saya selalu merasa Persebaya dan Liverpool Football Club selalu memiliki pertautan dan banyak kesamaan sejak dulu. Keduanya sama-sama klub legendaris di negara masing-masing, dan memilki beban sejarah sebagai klub yang dibenci karena kelakuan pendukung mereka.
Saya makin merasa keduanya ditakdirkan memiliki pertautan ketika Wali Kota Tri Rismaharini menjalin kerja sama sister city dengan Wali Kota Liverpool pada 19 Maret 2018. Saat itu, Persebaya tengah bangkit setelah terpuruk karena berkonflik dengan PSSI. Liverpool Football Club juga tengah bangkit bersama Jurgen Klopp, pelatih dari Jerman.
Maka saat Persebaya dan Liverpool selama berpekan-pekan menduduki peringkat pertama klasemen di liga masing-masing pada musim 2024-25, saya berharap hal-hal baik segera terjadi. Liverpool sudah mengakhiri puasa gelar selama 30 tahun pada musim 2019-20. Kini saya berharap Persebaya memperoleh gelar Liga Indonesia pertama sejak 2004. Dua dasawarsa tanpa gelar juara terlalu lama bagi klub sebesar Persebaya yang berada di kota terbesar kedua di Indonesia.
Namun tentu saja, saya terlalu banyak berharap dan ‘otak-atik gathuk’. Permainan Persebaya dan Liverpool jauh berbeda. Liverpool tampil stabil dan sangat enak ditonton. Arne Slot selalu mempunyai jalan untuk memenangi pertandingan, bahkan pada saat skor tertinggal.
Performa saat berhadapan dengan Fulham di Anfield (tertinggal dua kali dan bermain dengan sepuluh orang sejak menit 17 namun bisa memaksakan hasil seri) menunjukkan bagaimana mental juara The Reds.
Hingga putaran pertama Liga Inggris musim 2024-25 selesai (seluruh tim menyelesaikan 19 pertandingan, kecuali Liverpool yang menyisakan satu partai tunda melawan Everton), Pasukan Slot memimpin dengan 45 angka. Terpaut enam angka dari Arsenal yang berada di posisi kedua.
Sementara itu, Persebaya menutup putaran pertama Liga 1 musim 2024-25 dengan kekalahan 0-2 dari Bali United, di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Sabtu (28/12/2024). Dengan kekalahan tersebut, posisi Persebaya turun ke peringkat kedua klasemen sementara dengan 37 angka, disalip Persib Bandung yang meraup 38 angka. Jarak antara kedua tim bisa semakin lebar, jika Persib berhasil mengalahkan Bali United dalam pertandingan tunda.
Persebaya bermain buruk di Bali dan menunjukkan problem ketajaman lini depan belum teratasi. Menguasai permainan (53 persen), Persebaya justru dua kali dibobol skema serangan balik pelatih Stefano Cugurra.
Privat Mbarga mencetak gol ketujuhnya musim ini pada menit 63 melalui serangan balik yang mematikan, menembus pertahanan lawan yang kosong karena para pemain Persebaya terlambat kembali. Satu kali umpan yang membelah lapangan tengah dari Kadek Agung membuat para pemain bertahan Persebaya harus beradu lari dengan Privat.
Tiga menit kemudian giliran Privat menjadi pelayan bagi gol yang dicetak Irfan Jaya di hadapan 8.390 penonton. Serangan balik disusun oleh tridente Everton, Privat, dan Irfan dengan memanfaatkan transisi Persebaya yang lamban dari menyerang ke bertahan. (Fun fact: Everton adalah pemain Brasil yang menggunakan nama yang sama dengan nama klub asal Kota Liverpool,)
Mendadak Bonek kembali ke bumi setelah selama delapan pekan Persebaya menguasai pucuk klasemen sementara. Kekhawatiran Persebaya bakal kehabisan bensin pada putaran kedua mulai merebak.
Bukan apa-apa. Selain tidak memiliki striker tajam, kualitas tim inti dan bangku cadangan Persebaya juga tak merata. Gelandang bertahan asal Portugal, Gilson Costa, tidak menunjukkan kualitas yang terlampau berbeda dengan pemain lokal. Suara yang menuntut Gilson dicoret dari tim makin nyaring terdengar.
Manajemen Persebaya dituntut mencari pemain depan yang tajam, sehingga tak hanya mengandalkan pergerakan pemain sayap seperti Bruno Moreira dan Malik Risaldi, maupun Flavio Silva yang sampai saat ini tampil angin-anginan.
Selama 17 pertandingan putaran pertama, Paul Munster berhasil membawa anak-anak asuhnya mencetak 11 kemenangan, 4 hasil imbang, dan hanya 2 kekalahan. Semua kekalahan terjadi di kandang lawan. Namun dua kali imbang juga terjadi di kandang sendiri, Gelora Bung Tomo.
Munster harus memastikan sapu bersih delapan pertandingan kandang di Gelora Bung Tomo. Tidak ada lagi opsi seri, apalagi kalah. Dengan berbekal tambahan 24 angka dari pertandingan kandang di putaran kedua, Persebaya masih bisa bersaing dengan pemimpin klasemen Persib maupun Persija yang menguntit di peringkat ketiga.
Laga kandang harus dimaksimalkan, karena Persebaya harus bertandang melawan Persija, Arema, PSM Makassar, dan Borneo FC. Sementara di Gelora Bung Tomo Persebaya akan menjamu dua tim yang mengalahkan mereka di putaran pertama, Persib dan Bali United.
Kita berharap Paul Munster bisa menepis anggapan bahwa selama ini hanya bergantung pada keberuntungan. Namun sekali lagi, Persebaya bukan Liverpool. Jadi sudahlah, mari kita berdoa saja. [wir]






