Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) berencana memperluas program SMA Double Track dengan fokus pada digitalisasi pembelajaran dan diversifikasi keterampilan.
Rencana ini terungkap saat Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai melakukan monitoring dan evaluasi (monev) program di SMAN 2 Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jumat (12/9/2025).
Program yang sudah berjalan sejak 2018 ini merupakan kolaborasi antara Dindik Jatim dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, bertujuan membekali siswa SMA dengan keterampilan praktis untuk berwirausaha atau langsung memasuki dunia kerja setelah lulus.
“Program ini hadir sebagai solusi bagi lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja atau berwirausaha,” ujar Aries di Surabaya, Sabtu (13/9/2025).
Saat ini, program Double Track mencakup berbagai keterampilan seperti Multimedia, Teknik Listrik, Tata Boga, Tata Busana, Kecantikan, dan Teknik Kendaraan Ringan. Dalam monev tersebut, Dindik Jatim mencatat keberhasilan program, termasuk peningkatan transaksi usaha yang signifikan melalui unit DT Mart di beberapa sekolah.
Sebagai contoh, SMAN 1 Karangan mencatat transaksi hingga Rp 52,196 juta dari kegiatan sekolah, sementara SMAN 1 Panggul membukukan Rp 48 juta.
Keberhasilan ini juga terlihat dari kisah alumni seperti Andika Candra dari SMAN 1 Tugu, yang sukses membuka bengkel motor pribadi dan meraih pendapatan Rp 1,8 juta per bulan berkat keterampilan yang didapat dari program Double Track.
Dindik Jatim berkomitmen untuk terus mengembangkan program Double Track agar semakin relevan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja. Rencana pengembangan ini meliputi digitalisasi pembelajaran dan pemasaran produk.
Selanjutnya, diversifikasi keterampilan sesuai perkembangan zaman seperti teknologi informasi, animasi, dan wirausaha digital, serta penguatan kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) melalui teaching factory dan magang.
Aries menekankan bahwa program ini tidak hanya bertujuan menyiapkan lulusan untuk diserap industri, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan dan kemandirian. “Kita konsen bagaimana mereka berwirausaha, menumbuhkan entrepreneurship agar mereka bisa tangguh dalam pasar industri,” tegasnya.
Program ini telah dilaksanakan di 12 SMA negeri di Trenggalek, termasuk SMAN 1 Rejotangan, SMAN 1 Kalidawir, SMAN 1 Karangan, dan SMAN 1 Tugu. Setiap sekolah berkolaborasi dengan 3 hingga 10 mitra DUDI untuk memastikan relevansi kurikulum dan praktik di lapangan. [ipl/beq]






