Peristiwa

Warga Keluhkan Pencemaran Limbah dan Kebisingan Pabrik Kayu di Jember

Manajer Finansial PT Murocco Raymond Lukito

Jember (beritajatim.com) – Warga Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur mengelukan pencemaran limbah pabrik kayu PT Murocco. Mereka menuntut kompensasi dan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan.

Perusahaan tersebut belum membangun instalasi pengolahan air limbah (ipal), sehingga limbah masuk ke anak Sungai Bedadung.

Ahmad Aris, salah satu warga Kecamatan Arjasa, mengakui PT Murocco telah berjasa memekerjakan 700 orang karyawan dari warga sekitar. “Tapi keberadaan Murocco juga membuat persoalan limbah yang masih bermasalah. Sudah banyak korban. Ada warga yang terdampak oleh limbah yang dibuang perusahaan ke sungai. Ada korban yang gatal-gatal,” katanya, Rabu (4/12/2019).

PT Murocco mulai beroperasi pada 2016. “Seharusnya limbah ini dipikirkan dulu, karena merugikan masyarakat yang saya dengar terdampak hingga aliran Sungai Bedadung. Perusahaan untuk bisa bijak menyikapi persoalan ini,” kata Aris.

Pencemaran terjadi saat hujan turun, dan saat itu air sungai berbusa karena terkena luapan limbah. “Bagaimana kalau terjadi hujan lebat lagi? Tolong ini jadi pemikiran utama,” kata Aris.

Perusahaan sudah berjanji akan menanggung biaya pengobatan warga jika terkena penyakit akibat dampak langsung dari aktivitas perusahaan. Aris minta agar warga yang sakit segera diobati.

Warga juga menagih pengadaan air bersih melalui cara pengeboran sumur yang dijanjikan perusahaan. “Fakta hari ini tidak ada aliran sumur bor yang dijanjikan perusahaan,” kata Aris. Ia meminta agar perusahaan berkomitmen terhadap masyarakat sekitar.

Warga juga mengeluhkan kebisingan suara pabrik. “Warga tidak bisa tidur,” kata Aris. Warga meminta agar ada tembok mengelilingi pabrik untuk mengurangi suara bising.

Sudarman, warga Rukun Warga 03 Dusun Krajan Utara di Desa Patemon, mengaku sebagai warga pertama yang menerima limbah dan suara bising. “Kami berdampingan dengan pabrik. Selama ini warga kami tak pernah dipandang, karena kami berada di Kecamatan Pakusari, sementara PT Murocco di Kecamatan Arjasa,” katanya. Dua kecamatan itu memang berbatasan.

Sudarman meminta agar PT Murocco memprioritaskan penanggulangan limbah. “Perusahaan berdiri pas di sebelah sungai tempat aktivitas kami. Kebisingan itu juga kalau bisa habis. Kalau bisa diminimalisasi, agar ketenangan warga kami tiap malam bisa teratasi,” katanya.

Andi Sungkono, warga lainnya, mengaku sempat menguras sumur karena terdampak limbah. “Ke depan, harapan kami, masyarakat tidak diberi janji terus. Kami tidak anti investasi. Tapi tolong masyarakat Arjasa dan Pakusari juga diperhatikan,” katanya, menuntut agar komunikasi warga dengan manajemen pabrik dibuka.

Manajer Finansial PT Murocco Raymond Lukito berjanji akan berupaya memenuhi permintaan warga. “Ipal akan jadi prioritas. CSR berupa air bersih akan kami koordinasikan dengan masyarakat sekitar, apa yang jadi kendala selama ini,” katanya. Sementara untuk warga yang terdampak oleh limbah, perusahaan akan membantu.

Raymond mengatakan, sebenarnya ada dua saluran pembuangan di pabrik tersebut. “Satu untuk pembuangan air hujan yang direkomendasikan untuk sementara ini ditutup. Tapi saluran pengolahan limbah sedang disiapkan kontraktornya,” katanya. Ia mengakui perusahaan kurang detail dalam hal tersebut. Namun saat ini, perusahaan berkomitmen untuk menangani pengolahan limbah sebaik-baiknya.

Komisi C DPRD Jember sempat melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pabrik beberapa waktu lalu. Ketua Komisi C David Handoko Seto menginginkan solusi bersama. “Keluhan masyarakat tentang CSR (Corporate Sosial Responsibility) hendaknya diperhatikan. Air bersih yang sudah direncanakan PT Murocco hari ini belum dirasakan masyarakat lingkungan sekitar pabrik Ini harus jadi perhatian,” katanya.

David juga meminta agar penanganan kesehatan warga sekitar pabrik menjadi perhatian. “Tidak hanya karena terdampak pabrik. PT Murocco kalau perlu menyediakan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang dananya bisa diambilkan dari dana CSR,” jelasnya.

David menyarankan agar PT Murocco menyediakan petugas hubungan masyarakat yang bisa menjembatani komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah kecamatan. “Ada petugas khusus yang disiapkan menjadi humas,” jelasnya.

Terkait dengan penanganan limbah, David meminta agar selama ipal belum selesai dibangun, saluran yang mengalirkan air hujan ke sungai tidak digunakan untuk saluran pembuangan limbah. “Sebelum ipal selesai, kami minta (limbah) tidak dialirkan ke sungai,” katanya. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar