Surabaya (beritajatim.com) – Tumis udang adalah makanan favorit Anton, putra kesayangan Parsi (51) perempuan yang ditemukan tewas dengan sejumlah luka tusuk dan sayat, Kamis (02/02/2023).
Udang mentah yang sudah diolah menjadi masakan tersebut seharusnya disantap Anton bersama ibunya saat Anton pulang kerja.
Mereka sudah saling berjanji agar makan malam bersama. Namun sayang, Tumis udang yang dimasak oleh Parsi menjadi masakan terakhir yang belum sempat disantap Anton karena ibunya sudah tewas dengan cara yang mengenaskan.
Anton yang pada pagi hari berpamitan bekerja di sebuah pergudangan Margomulyo dan berjanji memberikan gaji bulanannya kepada Parsi harus menerima kenyataan jika ucapannya tak akan pernah ditepati.
Anton datang bersama sejumlah anggota Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya ke rumahnya di Jalan Simo Barat Kamis (02/02/2023) sekitar pukul 21.00 WIB.
Ia tampak tegar dengan kaos berwarna abu-abu. Pandangannya kosong. Ia lalu membuka pintu rumahnya dan disusul oleh satu per satu dari anggota Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya dan Reskrim Sukomanunggal.
30 menit Anton di dalam rumahnya bersama petugas kepolisian. Entah apa yang dilakukan. Namun tiba-tiba teriakan dan tangisnya pecah. Ia mungkin sudah tidak kuat menahan sesak dada saat melihat lokasi kamar tempat ibunya ditemukan tewas dengan empat bekas sayatan di baju, tiga luka tusuk di leher, satu sayat luka leher dan dua luka di punggung.
“Tadi pagi bu Parsi sempat nitip udang saat saya ke pasar. Katanya hari ini anaknya gajian dan minta di masakan udang. Favorit anaknya memang mas,” ujar Ayu salah satu tetangga sebelah rumah Parsi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”wanita-tewas”]
Pukul 21.30 WIB Anton bersama sejumlah anggota Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya keluar dari dalam rumah. Para anggota korps bhayangkara tersebut bungkam. Para awak media yang sudah menunggu tak sampai hati memberikan pertanyaan kepada Anton. Matanya sembab menahan tetesan air mata.
Beritajatim lantas mewawancarai Ayu. Tetangga samping rumah Parsi. Ia bercerita jika tak ada gelagat aneh saat mengantarkan udang pesanan Parsi ke rumahnya. Setelah amanahnya selesai, Ayu kembali ke rumah tentu untuk memasak bahan mentah yang ia beli dari pasar.
Menjelang sore, Ayu mendengar suara teriakan minta tolong dari suami Parsi, Suharsono. Karena ia tetangga terdekat, ia pun datang menghampiri rumah Parsi. Ia terkejut, Parsi ditemukan tewas di lantai kamarnya dengan kondisi memakai baju biru dengan bagian bawah hanya menggunakan celana dalam dan ditutupi oleh sarung berwarna hitam.
Baca Juga: Wanita Tewas Bersimbah Darah di Surabaya
Ia pun langsung melapor ke call center 112. Tak berselang lama petugas gabungan dari Dinas Sosial, Satpol PP, Polsek Sukomanunggal dan Polrestabes Surabaya datang ke lokasi. Akses jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil sempat membuat petugas kesulitan. Ditambah lagi, warga sekitar berkerumun di sekitar lokasi kejadian. Jenazah Parsi lantas dibawa ke mobil jenazah dan dibawa ke RSUD Dr. Soetomo.
“Saya ga dengar suara ribut-ribut atau gaduh mas. Makanya saya juga kaget ada kejadian seperti ini menimpa bu Parsi,” imbuh Ayu.
Polisi lantas pun meminta keterangan kepada sejumlah saksi. Termasuk Suharsono yang pertama kali menemukan jenazah Parsi. Sebelum dibawa ke kantor Polsek Sukomanunggal, Suharsono sempat melayani wawancara dengan para wartawan yang datang di lokasi kejadian. Pria yang sudah tinggal selama 30 tahun bersama Parsi di kontrakan rumah kos di Jalan Simo Barat tersebut dengan tegar menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.
“Saat menemukan pertama saya lihat lehernya ada cucuran darah. Wah ini ada pelaku pembunuhan. Dugaan saya ga meleset lah,” ujar Suharsono.
Kini, polisi tengah menyelidiki kasus ini. Entah siapa yang tega menghabisi nyawa Parsi dengan sadis. Berbagai spekulasi muncul di kalangan tetangga. Namun, yang pasti, Udang masakan Parsi untuk Anton belum sempat dihidangkan kepada anak laki-laki kesayangannya tersebut. Anton juga tak akan pernah lagi makan olahan udang hasil tangan ibunya. (ang/ted)






