Peristiwa

Pembantu Mengaku Disuruh Makan Tahi Kucing, Majikan Ditetapkan sebagai Tersangka

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian.(Manik Priyo Prabowo)

Surabaya (beritajatim.com) – Satreskrim Polrestabes Surabaya akhirnya menetapkan satu orang tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan asisten rumah tangga (ART) di Surabaya. Korban yang diketahui bernama Elok Anggraini Setyawati (45) atau EAS ini mengaku dianiaya sebelum diserahkan ke Liponsos Pemkot Surabaya.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian menjelaskan, tersangka dalam dugaan penganiayaan itu adalah majikan korban sendiri. Polisi juga akan melayangkan Surat panggilan pertama yang dikirim sebelum Hari Raya Iduk Fitri 1421 H. Dalam surat panggilan pemeriksaan pertama itu, terlapor diharapkan besik Selasa (18/5/2021) harus hadir pemeriksaan sebagai tersangka.

“Apabila tidak hadir, akan ada panggilan untuk kedua kalinya atau sesuai aturan hukum,” sebut AKBP Oki Ahadian saat dikonfirmasi, Senin (17/5/2021).

Mantan Kasubdit Jatanras Polda Jatim itu juga mengatakan terlapor yang menjadi tersangka ini akan ditunggu esok sesuai surat panggilan. Menurutnya, sebelum ditetapkan status tersangka, petugas sudah melakukan sejumlah pemeriksaan dan mendatangkan saksi ahli.

Saksi ahli ini merupakan tim medis yang melakukan tindakan visume terhadap korban. Visume tersebut terfokus pada sejumlah luka termasuk punggung korban. Sebab, diduga punggung korban terluka akibat pukulan benda keras seperti besi.

“Dalam waktu dekat akan kami lakukan pemanggilan kedua dan ketiga apabila mangkir,” tambah dia.

Terkait kondisi EAS saat ini, kata AKBP Oki Ahadian, masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara. Dikabarkan sebelumnya, EAS yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di kawasan Manyar, Kota Surabaya, bernasib sial.

Bukan hanya itu, oleh majikannya ia dimasukkan ke Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Surabaya. Sebelum dirinya dimasukan ke Liponsos, diduga mendapatkan siksaan terlebih dahulu dari sang majikannya.

EAS pun mengadu ke Anggota Dewan jika kerap kali mendapat siksaan saat bekerja, mulai disetrika, hingga disuguhi makanan yang dicampur kotoran kucing oleh sang majikan

“Majikan saya bilang, itu ada tahi kucing kok ga dibuang. Terus saya bilang iya nanti saya buang. Terus dia bilang lagi, ga usah nanti buat makan kamu. Saya pikir itu bercanda ternyata beneran, saya dikasih makan sama tahi kucing,” jelas EAS kepada Kepada Wakil Komisi B DPRD Surabaya, Anas Karno. [man/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar