Mojokerto (beritajatim.com) – Candi Brahu yang terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto diduga menjadi candi tertua di wilayah Trowulan. Hal ini berdasarkan adanya temukan prasasti Alasantan Mpu Sindok yang tidak jauh dari Candi Brahu.
Mengutip website resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan, keberadaan Candi Brahu dicatat pada tahun 1815 oleh Wardenaar. Saat ia mendapat tugas dari Raffles untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto.
Hasil kerja Wardenaar tersebut dicantumkan oleh Raffles dalam bukunya “History of Java” (1817). Candi Brahu diduga merupakan candi tertua yang ada di wilayah Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Ini berdasarkan adanya prasasti Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu.
BACA JUGA:Jadi Tersangka, Eks Penyidik KPK: Firli Sebaiknya Mundur
Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 861 Saka atau 939 Masehi yang isinya menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu Waharu atau Warahu. Nama inilah yang diduga sebagai asal nama Candi Brahu sekarang.
Menurut laporan Belanda dalam Rapporten Oudheidkundigen Commissie (ROC) tahun 1907 dan Rapporten Oudheidkundigen Dienst (ROD) 1915 menyebutkan di sekitar Candi Brahu dahulu pernah terdapat beberapa candi lain yaitu Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah dan Candi Gentong.
Namun saat ini hanya ada dua candi yang masih bisa kita temukan yaitu Candi Brahu dan Candi Gentong. Candi Brahu diperkirakan berlatar belakang agama Buddha, hal ini berdasarkan gaya bangunan serta profil sisa hiasan yang berdenah lingkaran pada atap candi dan diduga sebagai bentuk stupa.
Seperti bangunan-bangunan kuno yang terdapat di Trowulan, Candi Brahu terbuat dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok. Dengan bangunan bujur sangkar dan arah hadapnya ke barat dengan azimuth 2270.

Candi ini mempunyai ukuran panjang 22,5 meter, lebar 20,70 meter dan tinggi 20,70 meter. Struktur bangunan candi terdiri dari kaki, tubuh, dan atap. Kaki Candi Brahu terdiri dari dua tingkat dengan selasarnya serta tangga di sebalah barat yang belum diketahui bentuknya dengan jelas.
Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan bata baru yang dipasng pada masa pemerintahan Belanda. Denahnya berukuran 10 x 10,50 meter dan tinggi 9,6 meter. Di dalamnya terdapat bilik berukuran 4 x 4 meter, namun kondisi lantainya telah rusak.
Pada saat pembongkaran struktur bata pada bilik ini ditemukan sisa-sisa arang yang kemudian dianalisa di Pusat Penelitian Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Yogyakarta. Hasil analisa menunjukkan bahwa pertanggalan radio carbon arang Candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410 hingga 1646.
Atap Candi Brahu tanpa puncak yang telah hilang tingginya kurang lebih 6 meter. Pada sudut tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa. Berdasar gaya bangunan serta profil sisa hiasan berdenah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa.
BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Jatim 23 November 2023, Hujan Petir
Pada sekitar Candi Brahu ditemukan temuan lepas seperti genta dan arca perunggu, para ahli menduga bahwa Candi Brahu bersifat Buddhis. Selain itu diperkirakan Candi Brahu umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi-candi yang ada di Situs Trowulan.
Dasar dugaan ini adalah Prasasti Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Mpu Sindok pada tahun 861 Ç atau 939 M, diantara isinya menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu Waharu atau Warahu.
Nama inilah yang diduga sebagai asal nama Candi Brahu sekarang. Sebelum dipugar tahun 1990/1992-1994/1995, bagian barat dinding dan sebagian atap candi runtuh sehingga terlihat mengganga. (Tin/Aje)
![Candi Brahu Diduga Candi Tertua di Trowulan Mojokerto Caption : Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/11/20231110_064800_YVjNiSUO6b_5W35YZTC8g.jpeg)





