Blitar (beritajatim.com) – Momentum Iduladha tak hanya menjadi perayaan ibadah kurban, tapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Di Kabupaten Blitar, nilai transaksi kurban pada 2024 tercatat menembus Rp103 miliar. Perputaran ekonomi hewan kurban diprediksi lebih tinggi lagi tahun ini.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar Eko Susanto berharap tahun ini transaksi hewan kurban lebih tinggi dari sebelumnya. Apalagi, penyakit hewan ternak seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) dan lumpy skin disease (LSD) sudah mereda.
“Totalnya mencapai Rp103 miliar lebih. Ini bukti bahwa kurban bukan hanya ibadah, melainkan juga mendorong ekonomi lokal, terutama sektor peternakan rakyat. Angka ini berasal dari aktivitas jual beli ribuan sapi, kambing, domba, dan kerbau, serta distribusi daging kepada ratusan ribu keluarga,” ujarnya Eko, Rabu (4/6/2025).
Eko melanjutkan, berdasarkan data disnakkan pada Idul Adha 2024 lalu, jumlah hewan kurban yang dipotong di Kabupaten Blitar terdiri dari 2.273 ekor sapi, 15.599 ekor kambing, 344 ekor domba, dan 1 ekor kerbau. Daging kurban tersebut kemudian didistribusikan ke lebih dari 416.953 kepala keluarga.
Disnakkan juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap PMK meski saat ini sudah tidak ditemukan kasus aktif. Tercatat sepanjang Desember 2024 hingga April 2025 ada 718 kasus PMK, terdiri dari 687 sapi dan 31 kambing/domba. Namun, berkat upaya pengendalian, saat ini angka kasus telah nol.
“Kita harus tetap siaga agar tidak terjadi lonjakan kembali. Jangan sampai kurban justru menjadi pintu penyebaran penyakit,” katanya.
Sementara itu, untuk mendukung kelancaran dan kualitas pemotongan, disnakkan menerjunkan 261 petugas pemeriksa kesehatan dan pemantau pemotongan hewan kurban ke seluruh desa dan kelurahan mulai kemarin (28/5/2025). Bupati Rijanto yang langsung melepas ratusan petugas ini di Pendopo Sasana Adhi Praja (SAP).
Mereka berasal dari unsur ASN disnakkan, dokter hewan, inseminator, dan relawan masyarakat.Menurut dia, praktik penyembelihan yang sesuai standar tidak hanya menjaga mutu daging, tapi juga menghormati makna spiritual kurban. Petugas juga turut mencegah penyebaran penyakit strategis seperti PMK dan antraks.
“Selain memeriksa kesehatan hewan sebelum dan sesudah disembelih, mereka juga mengedukasi masyarakat soal tata cara penyembelihan yang halal dan beretika,” pungkasnya. [owi/beq]






