Surabaya, (beritajatim.com) – Dalam tradisi Indonesia, kata mitos dan pamali sering kali muncul secara bersamaan, namun keduanya memiliki fungsi yang berbeda untuk membentuk pandangan masyarakat. Mitos lebih fokus pada cerita atau narasi besar mengenai asal mula alam semesta, keberadaan makhluk gaib, serta peristiwa heroik di masa lalu yang dianggap suci. la berperan sebagai dasar kepercayaan yang menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, seperti kisah Dewi Sri yang menerangkan pentingnya padi sebagai sumber kehidupan utama.
Sementara itu, pamali adalah kumpulan aturan yang terdiri dari larangan atau pantangan dalam kehidupan sehari-hari. Pamali lebih bersifat instruktif, artinya memberikan arahan tentang tindakan apa yang dianggap tabu atau tidak layak dilakukan dalam masyarakat. Jika mitos diibaratkan sebagai sebuah “cerita”, pamali bisa dianggap sebagai “petunjuk” yang bertujuan untuk menjaga etika, keselamatan, serta keharmonisan interaksi antarmanusia dan dengan lingkungan sekitar.
Pola pikir yang mendasari keduanya juga berlainan; mitos sering kali beroperasi di ranah supranatural yang sulit dipahami secara logis, sedangkan pamali biasanya mengandung pesan rasional yang terselubung dalam ancaman mistis. Misalnya, larangan untuk memotong kuku saat malam hari (pamali) sering kali dianggap dapat mendatangkan sial, tetapi inti dari larangan tersebut sebenarnya adalah untuk menghindari cedera akibat kurangnya cahaya di masa lampau. Ini menjelaskan bahwa pamali merupakan cara tradisional untuk menanamkan disiplin dan kehati-hatian.
Walaupun berbeda dalam fungsi, keduanya sering saling berhubungan, karena banyak pamali yang berasal dari mitos tertentu. Sebuah larangan (pamali) dapat muncul dari kepercayaan terhadap sosok gaib atau peristiwa mistis (mitos) yang ada di suatu tempat. Dengan demikian, kedua hal ini bekerja bersama dalam menjaga ketertiban sosial agar masyarakat tetap menghormati dan patuh pada nilai-nilai leluhur melalui rasa hormat dan rasa takut yang terukur.
Akhirnya, memahami perbedaan antara mitos dan pamali memungkinkan kita untuk menghargai kekayaan intelektual dari nenek moyang dalam mendidik generasi selanjutnya. Mitos memperkaya imajinasi serta spiritualitas, sedangkan pamali membentuk budi pekerti dan etika perilaku. Keduanya bukan hanya takhayul kuno, tetapi merupakan warisan budaya yang mengandung kearifan lokal untuk mempertahankan keseimbangan hidup manusia di tengah alamnya. [Nickma Tsany Byan Leonartha]






