Ringkasan Berita:
- Pengusaha roti Family Bakery, Moh. Tajuddin, berbagi pengalaman kewirausahaan kepada siswa UPT SMP Negeri 1 Gresik melalui program Orang Tua Sumber Inspirasi (Orasi).
- Tajuddin menekankan bahwa kesuksesan usaha tidak hanya diukur dari keuntungan, tetapi juga dari kualitas produk dan manfaat bagi masyarakat.
- Ia memperkenalkan prinsip dua sayap kesuksesan, yakni ikhtiar bumi melalui strategi bisnis dan ikhtiar langit melalui nilai spiritual.
- Program Orasi menjadi bagian dari Gerakan Literasi Sekolah untuk memperluas wawasan, menumbuhkan motivasi, dan membantu siswa mempersiapkan masa depan.
Gresik (beritajatim.com) – Kesuksesan dalam dunia usaha tidak cukup diukur dari besarnya keuntungan. Menjaga kualitas produk, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta membangun usaha dengan landasan spiritual menjadi nilai penting yang perlu ditanamkan sejak dini.
Pesan tersebut disampaikan pengusaha roti Family Bakery, Moh. Tajuddin, saat berbagi pengalaman kewirausahaan dalam program Orang Tua Sumber Inspirasi (Orasi) di UPT SMP Negeri 1 Gresik, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari Gerakan Literasi Sekolah tersebut mengajak siswa belajar langsung dari perjalanan pelaku usaha. Pengalaman Tajuddin di bidang usaha roti diharapkan dapat membuka wawasan siswa mengenai arti kesuksesan, kerja keras, dan keberanian dalam membangun masa depan.
Dalam materi bertajuk Kiat Sukses di Dunia Usaha, Tajuddin menekankan bahwa keberhasilan seorang pengusaha bukan semata-mata ditentukan oleh angka penjualan atau besarnya keuntungan.
Menurut dia, usaha yang baik harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui penyediaan roti yang sehat dan halal bagi keluarga, sekaligus membuka peluang pemberdayaan warga di lingkungan sekitar.
“Menjalankan usaha itu juga harus memberikan ketenangan batin. Dengan begitu, keberhasilan bisnis tidak hanya dirasakan pemiliknya, tetapi turut membawa manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Tajuddin membagikan dua prinsip yang disebutnya sebagai dua sayap kesuksesan, yakni ikhtiar bumi dan ikhtiar langit. Ikhtiar bumi berkaitan dengan upaya nyata dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis.
“Pengusaha harus terus mengevaluasi dan berinovasi, menyesuaikan resep roti dengan perkembangan selera pasar, menjaga kualitas bahan baku, memberikan pelayanan prima, serta menyusun strategi pemasaran yang tepat,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa kualitas produk tidak boleh dikorbankan demi mengejar keuntungan sesaat. Inovasi juga diperlukan agar produk tetap diminati konsumen di tengah perubahan tren pasar.
Sementara itu, ikhtiar langit menjadi landasan spiritual dalam menjalankan usaha. Tajuddin menekankan pentingnya menjaga ibadah, berdoa, dan membiasakan sedekah sebagai bagian dari kehidupan seorang pengusaha.
Menurutnya, kedua prinsip tersebut perlu berjalan beriringan. Kerja keras dan strategi bisnis tetap harus dilakukan, sedangkan nilai spiritual menjadi pengingat agar usaha dijalankan dengan tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para siswa bahwa keberhasilan tidak hanya dibangun melalui kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga melalui sikap hormat, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap keluarga.
Kepala UPT SMP Negeri 1 Gresik, Beri Avita Prasetiya, mengatakan program Orasi menjadi ruang bagi siswa untuk belajar dari pengalaman dan perjalanan hidup orang tua yang berkarya di berbagai bidang.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah berupaya memperluas wawasan murid, menumbuhkan semangat belajar, membangun motivasi, serta mendorong mereka berani memiliki cita-cita dan mempersiapkan masa depan.
“Kisah perjalanan pelaku UMKM seperti Tajuddin menjadi salah satu contoh bahwa membangun usaha membutuhkan proses, ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan nilai-nilai yang dipegang secara konsisten,” paparnya.
Beri Avita menambahkan, melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa kesuksesan tidak datang secara instan. Cita-cita perlu diperjuangkan melalui usaha nyata, kemauan untuk terus belajar, dan sikap yang membawa manfaat bagi lingkungan.
“Melalui Gerakan Literasi Sekolah, pembelajaran pun tidak hanya berlangsung di dalam buku dan ruang kelas. Pengalaman nyata dari dunia usaha dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengenali potensi diri dan mempersiapkan langkah menuju masa depan,” pungkasnya. [dny/beq]






