Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat Politik Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi, menilai pelaksanaan Konferensi Daerah dan Konferensi Cabang PDI Perjuangan yang digelar serentak di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur menjadi penanda fase konsolidasi politik baru. Dia memandang agenda serentak ini sebagai langkah peneguhan arah perjuangan partai di tengah dinamika politik nasional.
“PDIP sedang membangun antitesis terhadap politik uang dan politik tanpa keberpihakan yang nyata. Konsolidasi ini menunjukkan bahwa partai ingin meneguhkan kembali politik ideologis yang adaptif terhadap perubahan zaman,” ujar Airlangga, Kamis (18/12/2025).
Airlangga menyebut agenda serentak tersebut mencerminkan upaya partai menguatkan politik berbasis ideologi di tengah menguatnya pragmatisme dan orientasi jangka pendek. Dia menilai langkah ini relevan untuk menjaga arah dan konsistensi organisasi.
“Agenda serentak ini mencerminkan upaya partai untuk menegaskan kembali politik berbasis ideologi di tengah menguatnya pragmatisme politik,” katanya.
Menurut Airlangga, pembumian ajaran Bung Karno menjadi fondasi penting dalam merespons perubahan sosial dan teknologi. Tantangan ke depan adalah menerjemahkan ideologi ke dalam bahasa dan program yang menjangkau pemilih muda.
“Tantangannya adalah bagaimana ideologi itu diterjemahkan ke dalam bahasa, medium, dan program yang mampu menjangkau pemilih baru tanpa kehilangan substansi,” ujarnya.
Dia juga menilai kesinambungan kepemimpinan perlu berjalan beriringan dengan regenerasi kader. Menurut dia, keduanya penting untuk menjaga stabilitas sekaligus memperluas daya jangkau politik partai.
“Kepemimpinan yang teruji secara ideologis, berintegritas, dan dekat dengan persoalan rakyat menjadi kunci navigasi partai dalam menghadapi perubahan zaman,” kata Airlangga.
Airlangga menambahkan, tantangan terbesar ke depan bukan semata persaingan antarpartai, melainkan perubahan perilaku pemilih yang semakin rasional dan cair. Dia menyebut konsistensi antara nilai ideologis, program kerja, dan kinerja menjadi faktor penentu daya saing partai.
“Pemilih kini menilai kinerja, keberpihakan kebijakan, serta manfaat konkret yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Airlangga. [asg/kun]






