Malang(beritajatim.com) – Sebanyak 125 orang dinyatakan meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan, pada Sabtu, (1/10/2022). Penyebab kematian karena massa panik saat tembakan gas air mata diluncurkan ke arah tribun suporter sehingga saling berdesak-desakan.
Beberapa pasien diantaranya dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang. Pengakuan dari Dirut RSSA yakni Kohar Hari Santoso rata-rata korban yang meninggal dunia karena sesak nafas, dan alami trauma di kepala sebagian bahkan terinjak-injak.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kericuhan-laga-arema-vs-persebaya”]
“Ada juga korban meninggal ada luka di dada karena terinjak. Itu kemungkinan karena berdesak-desakan sehingga jatuh dan terinjak,” kata Kohar, Minggu, (2/10/2022).
Selain itu, pada hingga Minggu sore tadi setidaknya 17 jenazah belum berhasil di identifikasi. Sementara untuk jumlah kumulatif Kohar tidak merinci. Yang jelas beberapa suporter masih menjalani perawatan di RSSA karena luka berat dan ringan. “8 korban luka berat dan 4 korban luka ringan. Dan 17 belum teridentifikasi. Kami masih coba untuk identifikasi,” tandasnya. (luc/kun)






