Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar memberikan perhatian khusus kepada tujuh kecamatan, dalam penanganan stunting. Ketujuh kecamatan tersebut adalah Kanigoro, Udanawu, Ponggok, Wonodadi, Binangun, Garum, dan Wlingi.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Blitar tengah melakukan audit data stunting pada daerah tersebut. Hasilnya permasalahan pola asuh anak menjadi faktor utama penyebab terjadinya kasus stunting.
Kepala DP3APPKB Kabupaten Blitar Mikhael Hankam Indoro mengatakan, dinas sudah mengidentifikasi kasus stunting di 22 kecamatan di Kabupaten Blitar. Menurutnya, dari hasil identifikasi semua daerah, ditemukan kasus yang perlu diangkat dengan penanganan konvergensi bersama-sama.
“Dalam kegiatan audit stunting ini, ada tujuh kecamatan dan sembilan desa yang kami hadirkan untuk penangan kasus stunting secara konvergensi. Bukan karena kasusnya tinggi, namun ada hal yang perlu ditangani bersama,” ujar Hankam usai acara audit data stunting, ditulis Sabtu (23/11/2024).
Ketujuh daerah dipilih bukan karena kasus stunting yang tinggi, namun kasus yang secara konvergensi bersama-sama. Karena ada kasus stunting yang bisa diselesaikan di tingkat kecamatan, pada beberapa daerah itu perlu ditangani bersama.
“Contoh, ditemukan kasus di keluarga yang perlu penanganan sanitasi, nanti penanganannya bersama dengan DPUPR dan dinas lain terkait,” tuturnya.
Padaaudit ini akan didalami dan diidentifikasi permasalahan penyebab kasus stunting. Selanjutnya, akan ada rekomendasi dari tim pakar yang menjadi salah satu dasar untuk menyampaikan kepada OPD terkait.
Sebab penanganan stunting ini harus ditangani lintas sektor, sehingga dapat mewujudkan zero stunting.
Ada beberapa faktor penyebab stunting, antara lain, soal pola asuh, gizi, calon pengantin mengalami anemia dan calon pengantin terlalu gemuk maupun terlalu kurus. Namun, rata-rata penyebab stunting di Kabupaten Blitar terkait pola asuh.
“Angka kasus stunting di Kabupaten Blitar masih tinggi, sekitar 20,3 persen. Lewat audit ini, kami berupaya menekan angka stunting di Kabupaten Blitar,” kata Hankam.
Sementara itu, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Miftakhul Huda menjelaskan kesehatan pada ibu dan anak juga perlu diperhatikan dalam mencegah stunting.
Karena sebagian kasus stunting, juga disebabkan karena ibu yang kurang energi atau ibu kek. Maka dari itu, mereka diberikan susu dan penyuluhan makanan bergizi sesuai kebutuhannya, yang tentunya protein harus tinggi.
Tidak hanya itu, bayi stunting juga perlu penanganan khusus sesuai kebutuhan. Bila kondisinya sudah resiko tinggi harus dirujuk ke rumah sakit sesuai dengan permasalahan yang ada. Jika bayi tersebut ada penyakit yang menyertai, itu perlu diwaspadai.
“Pola asuh menjadi penyebab utama stunting, karena mungkin banyak orang tua ke luar negeri, sehingga gizi asupannya berkurang. Maka dari itu, harus ditangani dengan protein yang cukup atau susu sesuai resep dokter,” pungkasnya. [owi/beq]






