Bojonegoro (beritajatim.com) – Pehobi bonsai yang tergabung dalam beberapa komunitas di Kabupaten Bojonegoro membangun pasar secara mandiri. Mereka membuat semacam galeri alam untuk mendisplay bonsai yang memiliki nilai jual.
Display bonsai itu dinamai Pasar Bonsai Bojonegoro. Lokasinya di Gang Sawahan, Kelurahan Sumbang, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Dibuka sekitar satu bulan lalu. Sedikitnya ada 7 komunitas bonsai yang tergabung dalam pasar tersebut.
Koordinator Pasar Bonsai Bojonegoro Totok Sujatmiko mengatakan, latar belakang yang mendasari pembuatan pasar bonsai tersebut dari keresahan para penghobi bonsai agar bisa menambah nilai ekonomi. Tanaman bonsai yang sudah terkumpul kini sudah ada ratusan.
Banyaknya tanaman bonsai yang terkumpul dalam satu lokasi ini diharapkan bisa menambah nilai tawar. Pengunjung yang datang bisa melihat banyak pilihan. Sehingga kemungkinan akan membeli juga tinggi. “Dibanding jika terpecah-pecah, stok sedikit dan pilihannya terbatas. Kalau menjadi satu tempat maka pengunjung banyak pilihan,” terangnya.
Sedikitnya, kata pria karib disapa Mukidi itu, ada 100 tanaman bonsai mejeng di Pasar Bonsai Bojonegoro. Tanaman-tanaman itu karya sejumlah penghobi bonsai dari tujuh komunitas. Di antaranya dari Kecamatan Balen, Dander, Trucuk, Bojonegoro, dan Kapas.
“Ada aneka jenis tanaman bonsai di Pasar Bonsai Bojonegoro. Baik jenis lokal maupun impor,” terang pria yang mengaku sudah menggeluti tanaman bonsai sejak 2006 silam ini.
Tanaman bonsai jenis lokal di Pasar Bonsai Bojonegoro, ungkap Mukidi, sedikitnya ada delapan varian. Yakni, Serut, Loa, Beringin, Bunut (Karebet), Gula Gumantung, Waru, Asem Jawa, hingga Kawis. “Tanaman-tanaman bonsai jenis lokal ini bakalannya atau bibitnya asli berasal dari hutan di Kabupaten Bojonegoro. Seperti Hutan Gondang, Sekar, Ngraho, dan sekitarnya,” jelasnya.
Untuk tanaman bonsai jenis impor, lanjut pria asal Desa Sumberjo, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro ini, di antaranya Beringin California dan Taiwan, Waru California, serta Saeng Simbur Vietnam.
Secara tujuan, kata Mukidi, hasil daripada Pasar Bonsai Bojonegoro ini cukup berhasil. Pengunjungnya cukup banyak. Per hari rerata ada sepuluh pengunjung dari Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya. “Beberapa hari kemarin, ada tanaman bonsai terjual. Kebetulan milik saya sendiri. Laku seharga Rp21 juta,” ungkap pria berprofesi sebagai Guru Sejarah di SMKN 2 Bojonegoro ini.
Terkait harga tanaman bonsai di Pasar Bonsai Bojonegoro, tutur alumni Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang ini, beragam dan sesungguhnya tak memiliki patokan. Namun, stok bonsai di Pasar Bonsai Bojonegoro ini dibandrol dari harga Rp30 ribu hingga puluhan juta. [lus/kun]






