Mojokerto (beritajatim.com) – Perayaan Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru China identik dengan barongsai. Sehingga momen tersebut tak jarang dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan kerajinan khas perayaan Tahun Baru Imlek.
Seperti di depan Klenteng Hok Sian Kiong Kota Mojokerto ini. Di klenteng yang terletak di persimpangan jalan di Kota Mojokerto yaitu di Jalan Residen Pamuji dan Jalan PB Sudirman ini juga dapat dijumpai para pedagang pernak-pernik khas Imlek.
Selain menjual miniatur barongsai, puluhan pedagang tersebut juga menjual pernak-pernik lain. Seperti reog dan jepaplok. Meskipun penjualannya merosot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, para pedagang tetap berjualan kerajinan barongsai.
Salah satu penjual barongsai mini, Arifin mengatakan, ia mulai berjualan barongsai mini sejak, Sabtu (21/1/2023). “Iya selalu ada di sini (perayaan Imlek di Klenteng Hok Sian Kiong). Kerajinan sesuai dengan momennya, barongsai,” ungkapnya, Minggu (22/1/2023).
[berita-terkait number=”3″ tag=”klenteng-hok-siang-kiong”]
Ia menjual aneka kerajinan khas perayaan Imlek, seperti barongsai, jepaplok, reog dan rampak. Kerajinan yang dijualnya tersebut berasal dari Malang. Ia mengaku penjualannya sepi lantaran pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 lalu.
“Iya sepi. Kalau sebelum pandemi, kalau pas hari raya Imlek bisa dapat menjual sampai 200 biji. Pandemi turun sampai 70 persen, sangat banyak sekali. Kalau dibanding tahun lalu, sepertinya agak meningkat sedikit. Untuk harga masih tetap, tidak ada perubahan,” katanya.
Warga Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini menjelaskan, jika harga barongsai dan jepaplok Rp 25 ribu.
Kesenian Barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi.
Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda hingga sekarang. [tin/ted]







