Madiun (beritajatim.com) – Pagi di Kota Madiun hampir selalu dimulai dengan cara yang sama sejak puluhan tahun silam. Dari Jalan Cokroaminoto hingga permukiman di Kelurahan Kejuron, bahkan di berbagai sudut masuk Kota Madiun, aroma sambal pecel menguar pelan. Wangi kacang tanah sangrai berpadu dengan segarnya daun jeruk purut menjadi penanda khas, waktu sarapan telah tiba.
Bagi warga Madiun, pecel bukan sekadar menu pengisi tenaga di pagi hari. Ia adalah bagian dari ritme hidup, tradisi yang diwariskan dari dapur ke dapur, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah perubahan zaman dan maraknya kuliner modern, rasa Pecel Madiun tetap bertahan dengan caranya sendiri.
Pincuk Daun Pisang yang Tak Pernah Berubah
Salah satu penjaga tradisi itu adalah Nasi Pecel 99 yang berlokasi di Jalan Cokroaminoto. Warung sederhana ini telah berdiri sejak 1987 dan nyaris tak mengalami perubahan berarti. Pincuk daun pisang masih setia digunakan sebagai alas saji, menghadirkan aroma alami yang berpadu dengan sambal pecel khasnya.
Bu Resmiati Ratri Respati (60), generasi kedua pengelola Nasi Pecel 99, mengatakan pecel bagi keluarganya bukan sekadar usaha, melainkan warisan yang harus dijaga, terutama soal rasa.
“Resepnya langsung dari orang tua. Kami jaga betul supaya rasanya tidak berubah,” tuturnya.
Setiap hari, dapur Nasi Pecel 99 mengolah sekitar 40–50 kilogram sambel pecel. Sayurannya beragam dan mengikuti pakem pecel Madiun, mulai dari daun singkong, kenikir, bayam, kembang turi, hingga krai (sejenis timun). Pilihan lauknya pun terbilang lengkap, seperti kikil, lidah sapi, paru, otak, daging, hingga telur.
“Kalau favorit di sini, lidah sama paru. Banyak pelanggan yang memang khusus cari itu,” kata Bu Resmiati.
Nama Nasi Pecel 99 kian dikenal luas setelah menjadi langganan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Bu Resmiati mengenang, SBY pertama kali singgah dan menikmati pecel di warungnya pada awal 2000-an.
“Beliau setiap mampir kesini, biasanya pilih lauk daging dan paru,” ujarnya.
Sejak itu, pejabat dari berbagai level kerap datang silih berganti, mulai dari Menteri, Gubernur, hingga Bupati dan Wali Kota dari berbagai daerah yang kebetulan singgah di Kota Madiun. Pada momen long weekend atau libur Lebaran, antrean pembeli bisa mengular. Pelanggan datang dari berbagai kota, seperti Semarang, Surabaya, hingga Jakarta. Tak jarang pula pesanan Nasi Pecel dilakukan melalui jasa titip.
Meski tak membuka cabang di luar kota, Nasi Pecel 99 kerap menerima pesanan khusus untuk acara tertentu. Pecel ini pernah dibawa ke Bromo, Jakarta, Yogyakarta, hingga Surabaya. Bahkan, beberapa waktu lalu disajikan untuk menjamu Menteri Kelautan dalam sebuah agenda di kawasan Bromo.
Di tengah gempuran tren kuliner modern, Nasi Pecel 99 tetap setia pada caranya sendiri: sederhana, konsisten, dan menjaga cita rasa.

Sambel Pecel Jeruk Purut, Rasa yang Terjaga dari Masa ke Masa
Tak jauh dari Jalan Cokroaminoto, tepatnya di sebuah rumah di Jalan Delima Nomor 35, Kelurahan Kejuron, tradisi lain juga terus hidup. Dari dapur sederhana inilah Sambel Pecel Jeruk Purut khas Madiun diproduksi dan dipasarkan sejak era 1960-an.
Usaha rumahan ini kini dikelola oleh Asrifan Roesmadji, yang akrab disapa Bu Fani. Ia merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha sang ibu, almarhumah Kasiyem atau waktu itu lebih akrab disapa Bu Roesmadji.
“Awalnya ibu jualan nasi pecel di rumah. Lama-lama banyak pembeli yang minta dibelikan bumbunya saja,” tutur Bu Fani.
Pada dekade 1970-an, keluarga masih fokus berjualan nasi pecel. Memasuki 1980-an, permintaan bumbu pecel meningkat pesat. Seluruh proses produksi kala itu dilakukan secara tradisional. Kacang tanah disangrai menggunakan wajan dari tanah liat dengan bahan bakar kayu. Pada waktu itu sekali masak, kapasitasnya hanya sekitar 1,5 kilogram per wajan dengan mengunakan 4 wajan.
“Dulu produksinya paling 50 kilogram sehari. Kacang ditumbuk pakai alu dan lumpang batu dari Magelang. Sampai sekarang alat itu masih kami simpan dan pakai,” kenangnya.
Seiring waktu, proses produksi mulai beradaptasi. Sejak 1999, keluarga menggunakan oven untuk menyangrai kacang. Sekali oven dapat menampung sekitar 25 kilogram. Produksi harian kini rata-rata mencapai 100 kilogram, dan bisa meningkat hingga 150 kilogram saat permintaan sedang tinggi, seperti musim liburan atau Lebaran.
Meski peralatan berubah, Bu Fani menegaskan racikan bumbu dan rasa tetap dipertahankan. Keistimewaan sambel pecel Madiun terletak pada bahan-bahannya yang sederhana namun seimbang: kacang tanah pilihan yang disangrai, cabai, gula merah, gula putih, garam, asam jawa, dan daun jeruk purut.
Tanpa bahan pengawet, sambel pecel ini mampu bertahan hingga enam bulan pada suhu ruang, menjadikannya favorit sebagai oleh-oleh khas Madiun.
Jalan Cokroaminoto, Sentra Pecel Madiun
Tradisi panjang pecel Madiun kemudian ditegaskan oleh Pemerintah Kota Madiun dengan menetapkan Jalan Cokroaminoto sebagai sentra kuliner nasi pecel sejak 2025. Penetapan ini sekaligus menjadi upaya penataan dan penguatan identitas kota.
Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Madiun, Yoga Pratomo, menyebut kebijakan tersebut merupakan pengakuan atas realitas yang telah tumbuh lama di tengah masyarakat.
“Secara historis, sentra pecel memang sudah terbentuk sejak lama di Jalan Cokroaminoto. Kebijakan ini untuk menegaskan sekaligus menata kawasan agar lebih dikenal luas sebagai sentra nasi pecel Madiun,” jelasnya.
Data Pemerintah Kota Madiun mencatat terdapat 156 produsen bumbu sambal pecel yang telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB), serta puluhan warung nasi pecel yang tersebar di berbagai sudut kota.

Harga nasi pecel pun relatif terjangkau, mulai Rp5.000 hingga Rp25 ribu per porsi, tergantung pilihan lauk tambahan. Menu ini dapat dengan mudah ditemui hampir sepanjang hari, dari pagi hingga malam.
Ke depan, Pemkot Madiun berencana mengintegrasikan sentra pecel dengan program Kelurahan Wisata. Program tersebut mencakup wisata edukasi pembuatan sambal pecel hingga penyelenggaraan agenda rutin seperti Festival Pecel.
Di tengah derasnya arus kuliner modern, pecel Madiun tetap bertahan dengan caranya sendiri. Pincuk daun pisang, kacang sangrai, aroma jeruk purut, dan rasa yang dijaga lintas generasi. Sederhana, namun justru itulah yang membuat pecel Madiun selalu dirindukan. [rbr/beq]






