Jember (beritajatim.com) – Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, disarankan belajar dari Zohran Mamdani, politisi Partai Demokrat yang berhasil memenangi Pemilihan Wali Kota New York, Amerika Serikat.
Saran ini dilontarkan Muhammad Iqbal, dosen ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, yang menjadi narasumber forum grup diskusi Dewan Pimpinan Cabang PDIP Jember, di Hotel Cempaka Hill, Minggu (9/11/2025).
Mamdani terpilih menjadi wali kota New York dengan didukung 1.036.051 suara atau 50,4 persen pemilih, mengalahkan Andrew M. Cuomo (854.995 suara atau 41.6 persen) dan Curtis Sliwa (146,137 suara atau 7.1 persen).
Menurut Iqbal, Zohran menawarkan solusi dan jalan alternatif bagi berlimpahnya agenda persoalan yang dihadapi warga New York. “Zohran menjadi antitesis kuasa istana Presiden Donald Trump,” katanya.
Iqbal menyebut ide kreatif, keterampilan bermedia, dan argumentatif sebagai kunci kemenangan Mamdani. “Dia mampu tampil inovatif dan adaptif dengan menggandeng tim kampanye yang muda dan menyasar pemilih muda untuk menghadapi dua kandidat lain yang didukung kuat kelompok oligarki no limit budget,” katanya.
Dalam lima tahun ke depan, Iqbal menekankan pentingnya perubahan gaya komunikasi politik PDI Perjuangan, terutama dalam pilihan kebijakan dan pencitraan. “Kebijakan yang menguntungkan pemilih harus diprioritaskan dan jangan tinggalkan proses-proses memproduksi citra,” katanya.
Iqbal mengingatkan tentang profil pemilih muda dan pemilih pemula yang didominasi milenial dan gen Z pada pemilihan umum 2024 dan 2029. “Mereka punya skill digital yang kuat, sehingga inilah era di mana terjadi perang manipulasi persepsi dan perang manipulasi informasi,” katanya.
“Seberapapun kuatnya upaya yang dilakukan kader tingkat ranting sampai dusun, akan buyar seketika bila ada perang persepsi dan perang manipulasi dengan berbagai macam konten dan platform digital,” kata Iqbal.
Maka, menurut Iqbal, PDI Perjuangan Jember perlu memasukkan proses pembuatan citra organisasi dalam peta jalan politik ke depan. “Kuncinya membuka diri dengan pendekatan baru,” katanya.
Ada tiga seni yang harus dipahami kader-kader PDI Perjuangan dan politisi di mana pun. “Interaksi sosial semakin kompleks, sehingga ke depan warna draft politik yang mau disusun harus dikemas dengan tiga seni, yakni seni memahami orang, seni memahami data, dan seni memahami konten,” kata Iqbal.
Selain itu, lanjut Iqbal. semua program kerja yang disusun PDI Perjuangan tidak boleh melupakan tiga isu besar, yakni hak asasi manusia, antikorupsi, dan lingkungan. “Tiga hal ini menjadi dasar program prioritas di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan,” katanya.
“Hak asasi manusia nantinya akan berkaitan dengan hak ekonomi, hak sosial, hak budaya, dan hak politik,” lanjut Iqbal.
“Sementara isu tentang lingkungan berkaitan dengan sudut pandang bahwa Jember punya bentang pegunungan dan bentang pesisir yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, terutama ketika kita bicara tentang blue economy and green economy. Ada valuasi nilai carbon storage di situ,” kata Iqbal.
Posisi PDI Perjuangan sebagai kekuatan kritis saat ini, menurut Iqbal, berpotensi mengubah ‘supporter’ (pendukung) menjadi follower (pengikut). “Namun itu sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi para kader untuk menjadi pelopor mengatasi abundance agenda (berlimpahnya agenda persoalan) di Jember,” katanya.
“Ini juga sangat ditentukan oleh durasi atau ketangguhan memegang prinsip. Jangan ada perselingkuhan di politik, karena itulah cermin setia di garis rakyat. Setia di garis rakyat saya maknai sebagai tidak ada perselingkuhan politik yang bisa mengkhianati cinta suci di hati rakyat,” kata Iqbal.
PDI Perjuangan disarankan memguatkan identitas sebagai partai pelopor. “Kata partai pelopor ini punya kekuatan dan energi secara makna komunikasi politik, yakni sebagai partai pembeda dari arus utama, di tengah maraknya partai yang masuk koalisi jumbo dan terkena sindrom ‘oh posisi’ ketimbang oposisi,” kata Iqbal.
Namun Iqbal mengingatkan PDI Perjuangan untuk tetap waspada. “Jangan sampai dalam lima tahun ke depan, seluruh agenda kerja yang sudah dususun dengan sangat sempurna, tiba-tiba buyar ketika terjadi akselerasi dan manuver gelontoran politik gentong babi yang begitu masif dan destruktif,” katanya. [wir]






