Lamongan (beritajatim.com) – Pawai ogoh-ogoh yang digelar di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan berlangsung semarak. Menariknya, masyarakat dari umat Hindu, Islam dan Kristen bersama-sama meramaikan pawai ogoh-ogoh ini.
Bagi masyarakat di Desa Balun ini, keterlibatan umat non Hindu dalam Pawai Ogoh-ogoh yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka 1945 ini bukanlah suatu hal yang mengherankan, sebab desa yang memiliki sebutan lain Desa Pancasila ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi dan toleransi antar umat beragama.
Tak cukup itu, rumah ibadah yang terdapat di Desa Balun ini juga letaknya saling berdekatan, mulai dari Pure, Masjid serta Gereja. Meski masyarakatnya berbeda keyakinan dalam memeluk agama, namun mereka hidup berdampingan secara damai dan harmonis.
Kepala Desa Balun, Khusyairi membenarkan bahwa pawai ogoh-ogoh tak hanya dilakukan oleh umat Hindu saja, melainkan juga umat Islam dan Kristen. Bahkan pada tahun ini, kata Khusyairi, antusiasme masyarakat begitu tinggi setelah dua tahun sebelumnya vakum sebab pandemi Covid-19.
“Tahun ini ada 13 ogoh-ogoh dengan bentuk yang beragam. Pawai ini tidak hanya dirayakan umat Hindu saja, tapi juga umat Islam dan Kristen. Semuanya berpartisipasi juga dalam membina kerukunan umat beragama,” ujar Khusyairi, Selasa (21/3/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”ogoh-ogoh”]
Khusyairi menjelaskan, ke-13 ogoh-ogoh itu diarak oleh masyarakat untuk mengitari Desa Balun dengan rute sepanjang 3 km. Dia menyebut, pawai ogoh-ogoh digelar lebih awal lantaran waktunya berdekatan dengan hari pertama puasa Ramadhan. Hal itu merupakan hasil kesepakatan dari berbagai pihak.
“Masing-masing RT di Desa Balun ini semuanya turut berpartisipasi. Di sini ada 13 RT, beberapa dari mereka juga membuat ogoh-ogoh untuk disumbangkan ke pihak pure dalan perayaan,” tuturnya.
Sementara itu, Tadi, Pemangku Pura Sweta Naga Suci agama Hindu Desa Balun menyampaikan, pawai ogoh-ogoh menjadi bagian dari ritual perayaan Hari Raya Nyepi. Menurutnya, ogoh-ogoh menggambarkan sifat angkara murka yang ada pada diri manusia.
“Kami seluruh umat Hindu, membuat ogoh-ogoh yang menggambarkan sifat keangkaramurkaan yang ada pada diri manusia. Ini menjadi bagian dari perayaan Hari Raya Nyepi. Jumlah ogoh-ogoh yang diarak ada 13. Itu 4 yang dari umat sendiri dan 9 lainnya dari umat lain maupun kelompok pemuda. Kami tidak minta, tapi mereka yang berinisiatif,” terangnya.
Seluruh ogoh-ogoh itu, sambung Tadi, diarak dan kemudian dibakar. Hal itu melambangkan bahwa sifat angkara murka pada diri manusia harus dimusnahkan dan diganti dengan sifat yang baik.
“Sempat vakum karena Covid, jadi kami tidak mengadakan ogoh-ogoh, karena mengundang massa. Ogoh-ogoh yang diarak lalu dibakar. Kenapa kok dibakar? agar sifat angkara murka itu dimusnahkan atau dikembalikan menjadi sifat yang baik, yang bijaksana. Setelah acara ini, kemudian besoknya umat Hindu menjalankan brata penyepian,” tandasnya.
Diungkapkan oleh Tadi, ada 4 pantangan dalam brata penyepian yang dinamakan dengan catur brata penyepian, meliputi pertama adalah amati geni atau tidak boleh menyalakan api. “Baik itu api yang secara umum, maupun api dalam diri kita, yang bisa menimbulkan nafsu-nafsu yang tidak baik,” bebernya.
Kedua, adalah amati pakaryan, atau umat Hindu tidak boleh bekerja selama 24 jam. Ketiga, amati lelanguan atau tidak boleh menikmati hiburan, seperti melihat TV, bermain hp dan sebagainya. Keempat, adalah amati lelungan, atau tidak boleh bepergian. “Jadi umat Hindu itu sebenarnya berpuasa. Di mana tempatnya? ya di situ saja, tidak boleh keluar. Misalnya di pure ya di pure, di rumah ya di rumah saja, selama 24 jam,” paparnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, belasan ogoh-ogoh itu telah dirangkai oleh masyarakat sejak bulan Januari lalu. Pawai ogoh-ogoh bertajuk “Melalui Dharma Agama, Dharma Negara Kita Sukseskan Pesta Demokrasi Indonesia” pada tahun ini berlangsung ramai dan semarak setelah 3 tahun sebelumnya tak digelar karena pandemi Covid-19.
Pawai ogoh-ogoh ini menyedot perhatian publik. Masyarakat dari berbagai penjuru hadir dan memadati Desa Balun yang dikenal dengan sebutan Desa Pancasila itu. Pawai ini tampak begitu dinanti-nanti oleh semua kalangan.[riq/kun]






