Gresik (beritajatim.com) – Ratusan warga Hindu di Desa Laban, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, menggelar pawai ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1945. Pawai yang sempat terhenti tiga tahun itu, akibat masih tingginya pandemi covid-19 disambut warga dengan meriah.
Rute pawai ogoh-ogoh dimulai dari halaman Pura Jagad Dumadi, Desa Laban Kulon, Kecamatan Menganti. Kemudian menyusuri jalan hingga perbatasan Gresik-Surabaya sebelum kembali lagi ke pura.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Gresik Kusno mengatakan, pawai tersebut digelar kembali setelah sempat terhenti karena kasus covid-19 masih tinggi.
“Pawai ogoh-ogoh sudah dirindukan oleh warga. Sehingga, saat digelar ribuan warga menyaksikan pawai ini,” katanya, Rabu (22/03/2023).
Sementara itu, Bupati Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) yang hadir di acara pawai ogoh-ogoh itu menuturkan, pelaksanaan pawai ogoh-ogoh pada upacara Pecaruan Agung Tilem Kasanga atau Tawur Agung Kesanga ini merupakan suatu hal yang sudah dinanti masyarakat.
“Setelah tiga tahun, akhirnya kita bisa bersuka ria menggelar pawai ogoh-ogoh lagi. Semoga pawai bisa berjalan lancar,” katanya.
Baca Juga:
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/eri-cahyadi-nilai-pawai-ogoh-ogoh-di-surabaya-tunjukan-rasa-toleransi/
Sepanjang perjalanan pawai, Bupati Gresik tak henti-hentinya melempar senyum dan membalas sapaan dari masyarakat yang berjubel. Semua tampak larut bersama-sama menikmati kemeriahan pawai.
Pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh yang merupakan wujud dalam melestarikan budaya dan adat masyarakat Hindu serta merupakan lambang keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dahsyat. Selepas diarak pada rute yang ditentukan, ogoh-ogoh tersebut lantas dibakar. Ini merupakan simbol memusnahkan sifat-sifat buruk manusia, sehingga hal-hal negatif tersebut tidak membawa pengaruh buruk di tahun yang akan datang. (dny/ted)






