Menjelang pertandingan tandang melawan Persija Jakarta, di Gelora Bung Karno, Sabtu (12/4/2025), rumor berembus: pelatih Persebaya, Paul Munster, akan kembali ke klub lamanya Bhayangkara Presisi FC.
Sebelum menukangi Persebaya, pelatih asal Irlandia Utara itu pernah melatih Bhayangkara pada 2019-2022. Dia membawa klub yang identik dengan institusi kepolisian itu menempati perungkat ketiga pada 2021-2022 di bawah Bali United dan Persib.
Kabar bakal pensiunnya Munster dari Pesebaya di tengah musim kompetisi mengingatkan pada Jurgen Klopp yang mengumumkan kepergiannya dari Liverpool pada saat musim 2023-24 belum selesai.
Banyak yang menyesalkan pengumuman pengunduran diri Klopp ini, terutama fans Liverpool, dilakukan pada saat Liverpool sedang berjuang keras menantang Manchester City. Ada kecemasan pengumuman ini akan mengganggu psikologi para pemain.
Kecemasan itu bukannya tanpa alasan. Sebelum Klopp mengumumkan masa pensiunnya pada 26 Januari 2024, Liverpool menduduki peringkat 1 klasemen Liga Primer pada pekan ke-21. The Reds mengantongi 48 angka dari 14 kemenangan, enam hasil imbang, dan sekali kalah.
Di akhir musim, Liverpool tercecer di posisi ketiga di belakang Manchester City dan Arsenal. Sejak kemenangan 4-0 di kandang Bournemouth pada 21 Januari 2024, Liverpool hanya mengantongi 34 angka dari 10 kali kemenangan, empat kali hasil imbang, dan 3 kali kalah. Nanun mereka bisa terhibur dengan gelar Piala Liga.
Spekulasi berkembang: bagaimana seandainya Klopp menunda pengumuman pengunduran dirinya hingga akhir musim? Akankah Liverpool juara? Banyak pertanyaan, banyak prediksi. Namun tentu saja tidak ada yang bisa menerka masa depan.
Yang jelas, Klopp pergi dengan meninggalkan warisan skuat yang solid untuk Arne Slot, pelatih berpaspor Belanda yang menggantikannya. Saat semua orang menebak (dan fans klub rival yang tuna taktik berharap) Liverpool akan runtuh seperti Manchester United saat ditinggalkan Ferguson, Slot justru menunjukkan sebaliknya.
Bersama skuat yang diwariskan Klopp (hanya ada Federico Chiesa yang dibeli pada masa kepelatihan Slot), Liverpool berada di peringkat pertama hingga pekan 32, terpaut 13 angka dari Atsenal. Tinggal dibutuhkan dua kemenangan dari enam laga tersisa untuk mengunci gelar ke-20 Liga Inggris.
Terlalu jauh membandingkan tentu saja. Namun mayoritas penggemar Persebaya (untuk tidak dikatakan seluruhnya) tidak terlalu cemas saat ada rumor Munster akan hengkang pada saat Liga 1 Musim 2024-25 menyisakan enam pertandingan.
Sebelum melawan Persija, Persebaya berada di posisi ketiga klasemen sementara dengan poin terpaut 10 angka dari Persib yang berada di pucuk klasemen. Kecuali ada keajaiban, susah bagi Persebaya untuk menaklukkan Persib dalam perebutan gelar juara. Kini mereka hanya berharap bisa lolos ke level Asia dengan menempati posisi runner-up, bersaing menghadapi Dewa United.
Setelah drama pahit melawan PSIS di Gelora Bung Tomo, Bonek sendiri tak terlampau percaya diri Persebaya akan mengalahkan Persija di hadapan ribuan Jakmania. Mengimbangi permainan tuan rumah dan tidak kalah saja sudah cukup realistis. Dan itulah yang terjadi di lapangan.
Kendati hanya menguasai 34 persen permainan, Persebaya masih bisa melepaskan enam tembakan ke gawang Persija yang dijaga Carlos Eduardo. Empat di antaranya tepat sasaran.
Tidak dimainkannya Marco Simic sebagai tombak Persija seharusnya bisa dimanfaatkan Persebaya. Namun Munster justru menarik mundur Malik Risaldi dari posisi sayap kanan menjadi sebagai bek kanan.
“Itu soal taktik untuk laga ini, mencoba untuk bermain yang terbaik. Saya tahu Malik Risaldi bisa bermain di posisi itu,” kata Munster.
Memainkan Malik di posisi bek sayap disebut Munster sebagai upaya beradaptasi dengan gaya main Persija. “Saya yakin tidak seorang pun yang mengiranya. Anda mengira Malik bermain di bek kanan? Tidak? Itulah yang saya inginkan,” katanya memuji permainan Malik.
Setelah bermain imbang tanpa gol di babak pertama, Persebaya kebobolan lebih dulu pada menit 62 oleh Rayhan Hannan. Memanfaatkan keputusan terburu-buru Ernando Ari meninggalkan gawang, Rayhan melepaskan bola lambung yang berbuah gol.
Tak butuh waktu lama, Persebaya mengembalikan kedudukan tiga menit kemudian melalui skema bola mati. Bola sudut yang dieksekusi Toni Firmansyah berhasil disundul Flávio Silva, masuk ke gawang Persija.
Persebaya kembali nyaris kebobolan pada menit 75, saat skema tendangan sudut cepat membuat Maciej Gajos bisa menembakkan bola hanya dua meter dari garis gawang Persebaya. Kali ini Ernando menjadi pahlawan dengan menepis bola yang seharusnya berbuah menjadi gol.
Hasil imbang yang disaksikan 39.395 penonton itu tak berubah hingga akhir pertandingan. Ini kali kedua Persebaya gagal memetik satu angka, setelah bermain imbang 1-1 juga dengan PSIS di pekan sebelumnya.
Namun tak ada Bonek yang peduli dengan taktik ‘aneh’ Munster yang memainkan Risaldi di bek kanan dan hasil imbang tersebut. Bonek sudah pada titik apatis terhadap kinerja Munster yang sempat mengguyurkan harapan dengan filosofi pragmatisnya pada awal musim.
Jauh-jauh hari sebelum pertandingan, Bonek lebih memikirkan cara agar ‘unjung-unjung’ ke Jakarta bisa berhasil. Patokannya sederhana: tak ada kerusuhan dan bentrokan dengan Jakmania. Kali ini ada ribuan orang suporter beratribut Persebaya yang bakal hadir di Senayan. Apapun bisa terjadi: hal baik maupun hal buruk. Apalagi dari dua kubu tak semuanya bisa menerima rekonsiliasi di antara mereka.
‘Unjung-unjung’ adalah tradisi saling mengunjungi dan bermaafan di kalangan muslim di Indonesia. Dalam konteks sepak bola, tentu ini kabar baik jika dua kelompok suporter besar di Indonesia bisa saling berkunjung dan menerima.
Maka apapun hasil di lapangan, kemenangan sejati justru terjadi di tribun penonton. Kemenangan bagi Bonek dan Jakmania, sekaligus kabar menyenangkan di tengah kabar buruk soal kondisi politik dan perekonomian di negeri ini.
Rumor kepergian Munster sama sekali tak terpikirkan. Toh Munster bukan Jurgen Klopp, dan peluang Persebaya untuk menjuarai Liga 1 musim ini sudah bisa dibilang tertutup. Berlanjut bersama Munster atau tidak, Persebaya harus melakukan pembenahan besar-besaran untuk merebut trofi Liga 1 Musim 2025-26.
Sudah dua dasawarsa Surabaya tak berpesta. [wir]






