Bondowoso (beritajatim.com) – Tensi tinggi persaingan kompetisi sepak bola usia muda di daerah kembali menyajikan drama mendebarkan di atas lapangan hijau. Aksi saling serang dan adu gengsi antar-akademi lokal sukses menyedot perhatian ribuan pasang mata penonton.
Puncak perburuan gelar juara bergengsi tingkat kabupaten ini ditutup dengan suguhan pertandingan dramatis, mulai dari adu penalti hingga diwarnai insiden kartu merah.
Kompetisi Piala Soeratin Kabupaten Bondowoso 2026 resmi berakhir di Stadion Magenda Bondowoso pada Jumat (24/7/2026) sore. Mippa Bondowoso sukses keluar sebagai juara U-13, sedangkan Arseko menobatkan diri sebagai kampiun U-15.
Partai final U-13 menyajikan duel sengit antara Mippa Bondowoso melawan Grenpes Muda. Bermain disiplin sepanjang waktu normal hingga skor imbang 0-0, Mippa akhirnya mengunci gelar juara usai menang adu penalti dengan skor 4-2.
Sementara itu, laga final U-15 berlangsung jauh lebih memanas. Arseko sukses menaklukkan Mippa dengan skor tipis 1-0 berkat gol cepat di babak pertama.
Suasana Stadion Magenda mendadak mencekam beberapa detik usai gol terjadi. Kiper Mippa diganjar kartu merah langsung oleh wasit usai kedapatan memukul perut striker Arseko bernomor punggung 7. Bermain dengan 10 pemain membuat Mippa gagal mengejar ketertinggalan hingga laga bubar.
Gelar individu U-13 diraih Arya (Top Skor) dan Khiza (Pemain Terbaik). Sedangkan di kategori U-15, gelar Top Skor disabet Bima (Mippa) dan Pemain Terbaik diraih Lutfi yang merupakan kapten Mippa.
Menanggapi hasil akhir ajang ini, Ketua Askab PSSI Bondowoso Subangkit Adiputra menekankan bahwa Piala Soeratin merupakan batu pijakan pembinaan jangka panjang dari U-13, U-15, U-17, hingga bermuara ke Porprov Jatim dan Liga 4.
“Harapan saya sebenarnya ini konsisten. Jadi tidak hanya di U-15, kemudian kita tidak konsisten. Karena apa yang diperoleh dari usia 13 sampai 15 tahun, seandainya tidak konsisten, artinya percuma,” tegas Subangkit pada Jumat (24/7/2026).
Subangkit juga mendorong para talenta muda Bondowoso untuk tidak cepat berpuas diri dan berani menjajal karier ke luar daerah demi mengasah kualitas mental bertanding.
“Jadi U-13, U-15, U-17, di atas itu sudah ke Porprov, kemudian ke Liga 4. Kalau sepak bola ini tanpa konsistensi, tidak bisa,” ujarnya.
“Kalau hanya bermain di Bondowoso saja, saya jamin tidak akan bisa berkembang dengan baik. Mereka sudah punya channel masing-masing dan kita siap mendukung,” lanjut Subangkit menegaskan kesiapan Askab, Pemkab, dan KONI memfasilitasi pemain berbakat.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Disparbudpora Bondowoso, Gede Budiawan, yang mengapresiasi konsistensi pembinaan bibit muda meski di tengah keterbatasan anggaran fasilitas olahraga.
“Khususnya sepak bola, Askab PSSI secara rutin mengadakan Piala Soeratin untuk usia 13 dan 15 tahun. Kami tentu berharap event ini betul-betul dimanfaatkan untuk mencari bibit-bibit muda sepak bola yang ada di Kabupaten Bondowoso,” pungkas Gede. [awi/ian]






