Surabaya (beritajatim.com) – Parade Teater Jawa Timur 2024 sukses digelar dengan menampilkan enam grup teater di Gedung Cak Durasim Jalan Gentengkali, Kota Surabaya pada 25-26 Oktober 2024.
Keenam teater tersebut antara lain Teater Granggang Ponorogo, Teater Arek Surabaya, Teater Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro, Teater Studio Daulang Surabaya, dan Teater Dialektika Sumenep, Madura.
Dari enam grup tersebut, Teater Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro menjadi satu kelompok yang mampu menyedot perhatian dan decak kagum penonton. Membawakan naskah Grafito, pementasan ini menyajikan konsep teater tradisi dalam bentuk kontemporer.
Sutradara Oki Dwi mengatakan, Sandur Sedhet Srepet sendiri merupakan kelompok teater yang intens melestarikan dan mengembangkan kesenian daerah, yakni sandur sebagai warisan budaya tak benda (WBTB).
“Konsep yang kami usung dalam pementasan adalah teater tradisi dan berbentuk kontemporer,” kata Oki, Senin (28/10/2024).
Dalam penampilannya, Teater Sandur Sedhet Srepet menyuguhkan khas pementasan sandur. Misalnya kostum dan make up yang mencolok dan tradisional. Alur yang dibangun pun disajikan dengan cara yang menghibur.
Sesekali, para aktor juga melakukan gerakan dan tarian serta berinteraksi dengan penonton. Inilah yang membuat pementasan Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro menjadi unik dan relevan karena kerap mengangkat isu-isu sosial.

Seperti dalam Parade Teater Jawa Timur 2024 ini, Teater Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro menyajikan pementasan Grafito karya Akhudiat. Di mana, menceritakan tentang cinta beda agama.
Oki menuturkan, Grafito mengisahkan sepasang kekasih yaitu Limbo dan Ayesa, dua insan yang datang dari keyakinan berbeda, dan terikat oleh cinta yang tak dapat dipisahkan.
“Mereka mengembara dalam pencarian seorang penghulu, berharap restu yang dapat menyatukan hati meski iman tetap terjaga di jalan masing-masing,” tutur Oki.
Namun, lanjut Oki, keteguhan untuk mempertahankan keyakinan yang berbeda membawa mereka ke dalam labirin spiritual penuh liku, di mana setiap langkah terasa seperti mencari cahaya di lorong tanpa ujung.
“Dari pementasan ini, kami ingin menyampaikan bahwa sebuah cinta perlu dipertahankan seperti halnya keyakinan agama,” ungkapnya.
Oki juga berharap, ke depan, Parade Teater Jawa Timur tak hanya memberikan apresiasi kepada kelompok. Namun juga untuk sutradara terbaik, aktor terbaik, dan para crew pementasan.
“Selain itu, saya berharap pemerintah daerah Bojonegoro juga mampu memberikan dukungan untuk pelaku seni agar dapat melangkah keluar membawa nama harum Kabupaten Bojonegoro,” tandasnya. [ipl/suf]






