Surabaya (beritajatim.com) – 17 Agustus selalu akrab dengan perlombaan-perlombaan tradisional. Lomba balap karung, makan kerupuk, balap bakiak dan aneka kreasi lainnya. Semuanya demi merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua warga berkumpul Bersama, bermain Bersama, bekerja sama Bersama memeriahkan suasana.
Namun, semua itu bagaikan sayur tanpa garam apabila tidak ada lomba panjat pinang. Kadang, juga panjat bambu, atau panjat pohon pisang. Lomba panjat-panjatan berkelompok ini selalu menjadi acara utama, diselenggarakan paling akhir dengan hadiah paling banyak dan besar.
[berita-terkait number=”5″ tag=”agustusan, lomba-agustusan”]
Lomba panjat pinang memiliki sejarah Panjang sampai pada masa penjajahan Belanda. Dulu, panjat pinang diselenggarakan setiap tanggal 31 Agustus, bertepatan dengan hari ualng tahun Ratu Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau. Penyelenggaranya tentu saja Pemerintah Hindia-Belanda.
Aturan lomba panjat pinang pada zaman itu, sama seperti yang kita tahu hingga kini; sebuah batang pinang setinggi 3-5 meter dikuliti lalu di tanam. Di bagian atas pinang, dipasang bambu melingkar seperti baling-baling. Di longkaran bambu itu lah digantungkan berbagai macam hadiah.
Untuk kondisi saat ini, hadiah yang dipasang mungkin terkesan remeh, namun bagi masyarakat pribumi masa itu sudah sangat mewah. Sebab, tidak setiap hari para pribumi bisa merasakan makan nasi, atau roti, apalagi keju. Pakaian pun masih menjadi barang langka.
Ada sekantung beras, roti, tepung, keju, gula, serta pakaian digantung di atas pinang. Setelah siap, pinang lalu dilumuri dengan minyak atau oli atau gemok, agar licin. Para peserta dari pribumi tersebut lalu dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari kira-kira 5 orang. Mereka yang berhasil memanjat, berhak mengambil hadiah tersebut.
Para ambtenar Belanda dan orang-orang belanda lain, tentu saja tidak ikut menjadi peserta. Mereka menonton dari suatu jarak sambil menertawakan para peserta yang jatuh terpeleset, naik lagi, jatuh lagi, begitu seterusnya. Merebutkan hadiah yang menurut mereka tidaklah seberapa, tetapi sangat mewah bagi pribumi.
Suka atau tidak, lomba yang dulu disebut de Klimmast ini memang sangat seru. Selain untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, para orang-orang Belanda biasanya juga menggelar de Klimmast ketika ada hajatan, nikahan, atau peringatan ulang tahun. [tur/bjo]






