Bondowoso (beritajatim.com) – Panen semangka di areal persawahan Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso, Senin (18/5/2026), menarik perhatian warga dan pengguna jalan.
Aktivitas bongkar muat semangka di pinggir jalan raya berlangsung ramai sejak pagi, seiring meningkatnya permintaan buah segar di tengah musim kemarau.
Di lokasi panen, sebuah pikap hitam tampak terparkir dengan bak terbuka. Para pekerja sibuk mengangkut semangka hasil panen ke kendaraan pengangkut, sementara sebagian lainnya menimbang buah sebelum dikirim ke sejumlah daerah di luar kota.
Tak sedikit warga yang sengaja berhenti untuk membeli langsung dari petani karena harga dinilai lebih murah dibanding di pasar maupun lapak penjual.
Sugianto, warga Desa Kalianyar, Kecamatan Tamanan, mengaku tertarik membeli semangka saat melintas di lokasi panen.
“Kebetulan lewat, kok rame-rame ternyata lagi ada panen semangka. Sekalian beli. Karena sekarang musim kemarau, jadi mengonsumsi semangka pas di saat panas-panas begini. Salah satu keunggulan beli di petani harganya lebih murah dibanding yang sudah dijual di lapak,” ujarnya.
Meningkatnya harga semangka belakangan ini diakui turut dipengaruhi tingginya permintaan pasar, termasuk adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut membawa dampak positif bagi petani maupun pedagang semangka di Bondowoso.
Herdiyanto, pedagang sekaligus pengepul semangka, mengatakan harga semangka sebelumnya sempat jatuh hingga membuat petani merugi. Namun, situasi berubah setelah permintaan meningkat.
“Dulu anjlok dan petani rugi. Dengan adanya program MBG, harganya naik karena permintaan meningkat. Jadi petani dan pedagang sama-sama untung,” katanya.
Menurut Herdiyanto, semangka asal Bondowoso kini dipasarkan tidak hanya untuk kebutuhan lokal, tetapi juga dikirim ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali hingga Mataram.
“Untuk serapan ke MBG masing sekitar 15 persen,” imbuhnya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada petani dan pedagang semangka karena sektor pertanian hortikultura dinilai mampu menopang perekonomian masyarakat kecil.
“Harapannya kepada pemerintah tolong petani dan pedagang semangka ini lebih diperhatikan karena pertanian semangka juga ikut mendongkrak perekonomian rakyat kecil,” tandasnya.
Sementara itu, petani semangka asal Kelurahan Nangkaan, Agus Budiyanto, mengungkapkan budidaya semangka cukup menjanjikan secara ekonomi. Dalam satu kali masa tanam hingga panen selama 63 hari, satu hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 25 ton semangka.
“Harga jualnya antara Rp8 ribu sampai Rp10 ribu per kilogram. Untuk satu hektare ini saya modalnya Rp70 juta dan mendapatkan omzet Rp100 juta atau untung bersih Rp30 juta,” jelasnya.
Di tengah cuaca panas dan musim kemarau, permintaan semangka terus meningkat karena dianggap menyegarkan dan banyak dicari masyarakat. Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani di Bondowoso yang kini menikmati harga jual lebih stabil dibanding sebelumnya. (awi/ted)






