Ponorogo (beritajatim.com) – Pandai besi di Ponorogo kebanjiran pesanan pisau menjelang penyembelihan hewan kurban. Tentu saja, tidak hanya pedagang hewan kurban dan petani rumput saja yang mendapatkan berkah berlebih di momen jelang hari raya Iduladha 1445 hijriah ini.
Seperti Muhammad Mahroji (34), seorang pandai besi asal Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Dia banjir pesanan pisau. Karena masyarakat ingin memiliki pisau berkualitas untuk keperluan kurban.
Mahroji mengaku penjualannya meningkat drastis menjelang Iduladha. Jika di hari biasa, pesanan pisau paling banyak 10 bilah tiap minggunya, namun kini naik drastis. Beberapa minggu terakhir, orderan pesanan pisau mencapai 80 bilah per minggu.
“Jelang hari raya saya bisa katakan kebanjiran orderan. Seminggu ada 80 bilah pesanan, biasanya mungkin paling banyak hanya 10 bilah,” ungkap Mahroji, Minggu (16/6/2024).
Mahroji pun terus berinovasi dalam pembuatan pisau. Untuk menarik lebih banyak konsumen, Ia sering menciptakan variasi baru. Yakni pegangan pisau atau rangkanya dimodifikasi dengan ukiran. Bahkan ukiran-ukiran yang Ia buat, merupakan hasil mempelajari langsung dari seniman ukir Yogyakarta.
Sehingga variasi ini membuat pisau buatannya semakin diminati, baik di Ponorogo maupun luar pulau Jawa seperti Batam, Palangkaraya, hingga Lombok Timur. “Pesanan bukan hanya dari Ponorogo, tetapi juga sudah dari luar kota. Seperti dari Batam, Palangkaraya hingga Lombok Timur,” katanya.
Harga pisau buatan Mahroji pun juga bervariasi. Mulai harga Rp150 ribu hingga Rp2,5 juta per bilah pisau. Harganya tergantung pada kualitas bahan dan ukuran. Selain itu, aksesorinya berupa ukiran juga tersedia dengan harga antara Rp2 juta hingga Rp3 juta, tergantung pada tingkat kesulitannya.
“Harganya bervariasi, mulai Rp150 ribu hinhha Rp2,5 juta. Tergantung pada kualitas bahan dan ukuran serta ukiran rangkanya,” pungkasnya. [end/suf]






