Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Unair (Universitas Airlangga) Dr Listiyono Santoso membredel etika publik Indonesia dalam bermedia sosial (medsos). Menurutnya, etika warga +62 dalam bermedsos masih sangat memprihatinkan.
“Menurut saya perlu mendapatkan perhatian. Masyarakat belum bisa membedakan sesuatu antara urusan privat dan publik,” ujar Listiyono, Senin (10/6/2024).
Ia menjelaskan, media sosial bersifat publik. Karena itulah, ketentuan etis yang sifatnya publik harus diperhatikan betul. Ia berpesan, persoalan privat tak boleh dimasukkan atau diunggah ke dalam ranah publik.
Dosen Etika Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair itu pun memberikan contoh cara bermedsos yang salah di Indonesia. Misalnya saja konflik keluarga dan konflik antar individu yang kerap masuk atau terunggah dalam media sosial.
“Ini yang sering kali muncul di masyarakat kita dan butuh literasi media sosial biar tahu mana urusan dalam ranah privat dan mana urusan dalam ranah publik,” tuturnya.
Listiyono juga menyinggung soal buzzer. Ia mengatakan bahwa fenomena buzzer merupakan sebuah keniscayaan. Artinya, buzzer sengaja hadir untuk menciptakan framing kondisi tertentu untuk menyudutkan kelompok tertentu.
“Masyarakat kalau memiliki literasi bermedia sosial yang baik, maka akan bisa membedakan mana yang sesuai realitas dan mana yang sengaja tercipta dengan tujuan tertentu,” jelas Wakil Dekan I FIB Unair tersebut.
Karena itu, ia berpesan agar masyarakat dapat bijak dalam bermedsos. Ia juga mengajak publik agar menggunakan medsos sebagai ruang publik yang memberikan informasi edukatif.
Sebagai informasi, setiap tanggal 10 Juni, publik Indonesia merayakan Hari Media Sosial. Perayaan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2015. Hari Media Sosial, lahir untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan edukasi bermedsos kepada masyarakat. [ipl/ian]






