Malang (beritajatim.com) – Adhi Cahya Fahadayna, S.Hub.Int., M.S., seorang dosen Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya (UB) berpendapat bahwa kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan berdampak positif pada hubungan strategis antara Indonesia dan AS.
Menurut Adhi, kesamaan pandangan dan pendekatan kebijakan antara Trump dan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuka peluang memperkuat kemitraan bilateral.
Adhi menjelaskan bahwa sejak 2015, sinyal kedekatan antara kedua pemimpin ini sebenarnya sudah terlihat. Salah satu elit Partai Gerindra bahkan sempat bertemu dengan Trump ketika ia masih menjalani kampanye sebagai calon presiden pada tahun tersebut.
Menurut Adhi, pertemuan ini menunjukkan adanya perhatian dari kedua belah pihak untuk menjalin komunikasi politik yang dapat mengarah pada kolaborasi strategis jangka panjang. “Kedekatan pemerintah Indonesia dengan Trump ini sudah terbangun sejak beberapa tahun lalu dan memungkinkan adanya keselarasan kepentingan strategis di masa mendatang,” ungkap Adhi, Jumat (8/11/2024).
Ia menilai bahwa Trump dan Prabowo memiliki gaya kepemimpinan yang serupa. Utamanya dalam hal kebijakan yang berorientasi pada kelompok akar rumput dan pekerja, serta pendekatan konservatif terhadap isu-isu kebangsaan.
Menurut Adhi, kesamaan karakter antara Trump dan Prabowo dapat memainkan peran penting dalam mempererat hubungan Indonesia-AS. Baik Presiden Terpilih Trump maupun Presiden Prabowo sama-sama mengedepankan pendekatan konservatif.
“Keduanya lebih fokus pada isu-isu yang mendukung kalangan pekerja serta komunitas akar rumput,” ujar Adhi. Selain itu, keduanya mengambil alih kepemimpinan negara di usia yang relatif lanjut, yang menurutnya turut memengaruhi kedekatan perspektif keduanya dalam menghadapi tantangan nasional.
Sebagai alumni Northeastern University di Amerika Serikat, Adhi memiliki pemahaman yang mendalam tentang dinamika politik AS dan dampaknya pada hubungan internasional. Ia menegaskan bahwa dengan kepemimpinan kedua pemimpin ini, yang mengusung nilai konservatif dan nasionalis.
Lebih lanjut, Adhi juga melihat bahwa rencana lawatan internasional Presiden Prabowo, yang salah satunya termasuk ke Amerika Serikat, dapat menjadi momen penting untuk mempererat hubungan diplomatik kedua negara. “Ada kemungkinan besar bagi Presiden Prabowo untuk bertemu Trump dalam kunjungannya nanti, dan pertemuan ini akan membuka peluang untuk memperkuat kemitraan strategis di antara kedua negara,” tambahnya.
Di sisi lain, Adhi juga memberikan analisis tentang strategi kampanye populis yang digunakan Trump dalam pemilihan presiden AS tahun ini. Menurutnya, Trump sukses mempertahankan isu populis dalam kampanye. Hal itu berdampak positif pada hasil pemilu di sejumlah negara bagian kunci, seperti Georgia, North Carolina, Pennsylvania, dan Wisconsin.
“Trump mampu menarik dukungan dari kalangan pekerja dan komunitas industri yang terdampak kemunduran ekonomi AS, terutama di wilayah Rust Belt yang dikenal sebagai pusat industri,” jelas Adhi.
Menurutnya, slogan ‘Make America Great Again’ yang diusung Trump masih memiliki daya tarik yang kuat di kalangan masyarakat Amerika. Khususnya di daerah yang merasa terpinggirkan oleh perubahan ekonomi dan deindustrialisasi.
Lebih lanjut, Adhi menilai bahwa keberhasilan Trump di pemilu kali ini tidak lepas dari nilai konservatisme yang masih kental dalam masyarakat Amerika. Pandangan konservatif ini, menurutnya, memberikan dorongan signifikan bagi kemenangan Trump, terutama di wilayah-wilayah dengan basis pemilih tradisional yang kuat.
Adhi meyakini bahwa kesamaan visi strategis antara pemerintahan Indonesia dan Amerika Serikat yang dipimpin Trump dapat memberikan angin segar bagi hubungan bilateral kedua negara.
Adanya pertemuan antara Prabowo dan Trump dalam waktu dekat, kemungkinan besar akan terjadi pembahasan mengenai langkah-langkah konkret mengoptimalkan hubungan diplomatik dan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat. (dan/ted)






