Malang (beritajatim.com) – Dugaan korupsi besar-besaran di PT Pertamina yang mencapai hampir 1 kuadriliun rupiah berpotensi memberikan dampak serius terhadap ekonomi nasional, terutama dalam hal korupsi Pertamina dan dampak ekonomi yang ditimbulkannya. Salah satu dampak utama, menurut Nugroho Suryo Bintoro, Ph.D., Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya (UB), adalah menurunnya kepercayaan dunia terhadap Indonesia.
Menurut Nugroho, permasalahan korupsi bukan hanya soal besarnya kerugian negara, tetapi juga berdampak pada daya saing dan iklim investasi di Indonesia. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional.
Selain menyumbang keuntungan bagi negara, perusahaan ini juga berperan dalam menjaga stabilitas energi yang menjadi kebutuhan vital masyarakat. Namun, dengan munculnya dugaan korupsi berskala besar, dampaknya bisa jauh lebih luas.
“Dari aspek kelembagaan, dunia akan melihat bahwa persaingan sehat tidak terjadi di Indonesia. Ini bisa membuat investor asing berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Tanah Air. Artinya, kita sendiri yang menghambat terbentuknya iklim investasi sehat,” jelas Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Malang kepada beritajatim.com, Rabu (5/3/2025).
Lebih lanjut, Nugroho menyoroti bahwa jika dugaan korupsi ini terbukti, produk Indonesia bisa kehilangan kepercayaan di pasar global.
“Dengan kasus besar seperti ini, produk Indonesia bisa diragukan kualitasnya. Ini bisa menyulitkan produk-produk kita untuk diterima di luar negeri,” tambah pakar ekonomi UB tersebut.
Selain berdampak pada kepercayaan global, dugaan korupsi ini juga bisa menjadi pukulan telak bagi keuangan negara, menyebabkan kerugian finansial akibat korupsi yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi. Saat ini, pemerintah sedang berupaya melakukan efisiensi anggaran dan menjalankan kebijakan menuju Indonesia Emas 2045. Namun, jika uang negara terus bocor akibat korupsi, maka upaya tersebut akan semakin sulit direalisasikan.
“Menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya besar, baik manusia, keuangan, maupun waktu. Jika korupsi masih merajalela, maka harga mahal yang harus dibayar oleh negara ini di masa depan,” tegasnya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Nugroho menekankan pentingnya penguatan kelembagaan melalui reformasi BUMN dan peningkatan transparansi perusahaan. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan pengawasan terhadap tata kelola di BUMN.
“Tanpa perbaikan sistem pengawasan yang ketat, kasus-kasus serupa bisa terus terjadi dan merugikan negara,” ujarnya.
Dugaan korupsi di Pertamina ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan masyarakat. Jika tidak segera dibenahi, dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri tetapi juga akan mempengaruhi posisi Indonesia di panggung ekonomi global. [dan/beq]






