Jember (beritajatim.com) – Ada yang berbeda dari penampilan Bupati Muhammad Fawait saat menghadiri jumpa pers ‘Pro Gus’e’ di kawasan Wisata Rembangan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (1/8/2025) sore.
Dalam beberapa kali sesi jumpa pers di gedung DPRD Jember, kantor Pemkab Jember, maupun kantor organisasi perangkat daerah, Fawait mengenakan pakaian resmi. Dia juga tidak didampingi sang istri, Gyta Eka Puspita.
Namun dalam jumpa pers untuk mengabarkan situasi terbaru penanganan krisis BBM kali ini, Fawait tampil dengan mengenakan kaus berwarna merah muda bertuliskan ‘Gus Darling’. Dia juga didampingi Gyta yang mengenakan kaus berwarna senada bertuliskan ‘Gus Fundamental’.
Ketua Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah Gogot Cahyo Baskoro hadir pula seperti biasa, kali ini mengenakan kaus serupa dengan Fawait. Sementara itu Pejabat Sekretaris Daerah Jupriono dan Sales Brand Manager Pertamina Area Jember Hendra Saputra yang mengenakan pakaian dinas resmi.
Kaus warna merah muda bertuliskan Gus Darling tersebut juga dikenakan sejumlah relawan pendukung Fawait saat pilkada yang hadir dalam acara tersebut. “Kawan-kawan relawan semuanya punya kaus baru dan slogan baru sepertinya. Ada dua kaus baru sepertinya. Bagus-bagus semua,” kata Fawait saat mengawali sambutan.
Fawait juga memuji kaus warna merah muda yang dikenakan salah satu hadirin. “Kaosnya bagus. Tulisannya apa itu? Fundamental?” katanya tertawa.
Di ujung acara, kaus berwarna merah muda itu juga diserahkan kepada perwakilan Pertamina oleh Fawait dan Gyta. “Kaus ini sangat unik sekali. Pertama bertuliskan Gus Darling dan juga Fundamental,” kata pembawa acara.
Sehari sebelumnya, foto Muhammad Fawait memegang kaus warna merah muda bertuliskan ‘Gus Darling’ dan tokoh petani Arum Sabil memegang kaus bertuliskan ‘Gus Fundamental’ di Pendapa Wahyawaibawagraha sudah viral di media sosial.
‘Darling’ dan ‘Fundamental’ adalah dua kata yang terlontar dari Fawait saat memberikan pernyataan pers di hadapan wartawan. ‘Darling’ terlontar saat dia memberikan pernyataan resmi di gedung DPRD Jember, Senin (28/7/2025) malam, soal pembelajaran daring bagi pelajar dan work for anywhere bagi aparatur sipil negara pemerintah daerah selama krisis BBM berlangsung.
Saat itu, Fawait terselip lidah menyebut kata ‘daring’ menjadi ‘darling’. Tak menunggu lama, potongan video Fawait yang menyebut kata ‘darling’ itu pun menjadi viral di media sosial dan dijadikan bahan lelucon warganet.
Sementara itu, ‘Fundamental’ muncul dari pernyataan Fawait saat memberikan keterangan pers di sela-sela kegiatan Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan (Bunga Desaku), di Kecamatan Ambulu, Minggu (27/7/2025).
Saat itu, kendati mengaku kaget melihat antrean di SPBU, Fawait menyatakan persoalan krisis BBM itu bukan masalah sangat fundamental. “Jadi kelangkaan BBM ini sebetulnya bukan masalah yang sangat fundamental, karena ini dampak penutupan jalan nasional antara Jember dan Banyuwangi, karena ada perbaikan,” katanya saat itu.
Berbeda dengan kepleset ‘daring’ menjadi ‘darling’, pernyataan bahwa kelangkaan BBM tersebut bukan masalah yang sangat fundamental memantik gelombang kemarahan warganet di media sosial. Mereka menilai pernyataan Bupati Fawait tidak peka dan sensitif.
Ketua Pusat Kajian Hukum dan Keadilan Sosial Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Herlambang P. Wiratraman menyebut pernyataan itu sangat tidak bertanggung jawab, nir empati, dan memperlihatkan tidak memiliki kepekaan terhadap dampak hajat hidup orang banyak.
Herlambang berpendapat saat itu Bupati Fawait seharusnya tak perlu mengeluarkan pernyataan tersebut, dan sebaiknya lebih berkonsentrasi pada upaya penanganan krisis. “Ini soal fundamental, urgen, bukan biasa saja,” katanya.
Menormalisasi Kesalahan
Muhammad Iqbal, pengajar ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, mengkritik produksi kaus bertuliskan ‘Gus Darling’ dan ‘Gus Fundamental’ tersebut. “Alih-alih introspeksi dan membenahi kualitas kepekaan komunikasi krisis, Bupati Fawait malah tampak bangga mengkampanyekan krisis sekian hari derita publik dengan mencetak kaus itu,” katanya, Sabtu (2/8/2025).
Iqbal menyebut tindakan tersebut absurd dan terkesan norak. “Mungkin slogan di kaus pink itu dimaksudkan sebagai kreativitas dan kelakar semata. Padahal dalam komunikasi krisis, itu makin berpotensi ciptakan delegitimasi sosial bahkan moral,” katanya.
Menurut Iqbal, publik bisa saja menilai slogan ‘Gus Fundamental’ dan ‘Gus Darling’ sebagai bentuk ‘menormalisasi kesalahan fatal’ dan penghinaan pada fondasi etika moral. Hal ini bisa dilihat dari reaksi publik yang marah mengomentari unggahan foto kaos itu di media sosial.
Di media sosial Instagram @aslijembermat, mayoritas dari 2.299 komentar warganet menunjukkan ketidaksukaan.
‘Kebanyakan gimik politik. Bukannya minta maaf salah icap eh malah bikin kaos heheh. Masyarakat Jember yang cerdas bisa menilai.’ (akun @jember keras)
‘Malah digawe guyonan, introspeksi juga ya bos’ (akun @imamarifingozali)
‘Keresahan publik jadi bahan candaan?’ (akun @rrizqifirdaus_)
‘Cara konyol sikapi pernyataan ngaco, kocak to the max.’ (akun @bagusezar)
Muhammad Iqbal meminta agar Bupati Fawait memiliki sensitivitas dalam menyikapi krisis dan pasca krisis. “Krisis sudah terjadi. Maka yang sangat dibutuhkan publik ke depannya adalah kedewasaan pemimpin yang punya daya sensitif krisis dan komunikasi empatik,” katanya.
Alumnus doktoral Universitas Indonesia ini mengingatkan bahwa mengembalikan situasi krisis menjadi normal sejatinya bukanlah prestasi. “Ini memang sudah mandatori, kewajiban mandat amanah dari masyarakat. Justru bila manajemen koordinasi dan mitigasi sejak awal memadai, krisis bisa saja dapat dihindari atau teratasi tak sampai berhari-hari,” katanya. [wir]







1 Komentar
ternyata 11 – 12 sama gerombolan keluarga raja solo