Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua KONI Jawa Timur Muhammad Ali Affandi menyoroti fenomena olahraga padel yang tengah menjadi tren di sejumlah kota besar. Ia menilai padel saat ini masih tampak sebagai olahraga eksklusif yang hanya bisa dimainkan di lapangan modern dengan biaya sewa relatif tinggi.
“Ya saya sebagai bagian dari KONI, saya melihat ada dua wajah padel hari ini. Di satu sisi, ia membawa energi baru: dinamis, mudah dimainkan, fun, dan cocok untuk dimainkan berpasangan. Padel cepat dipelajari, sehingga menarik bagi pemula maupun atlet lintas cabang. Banyak kalangan muda tertarik karena padel menghadirkan kombinasi antara olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Tetapi di sisi lain, kita juga harus jujur bahwa padel berisiko terjebak dalam stigma eksklusifitas. Biaya sewa yang relatif mahal, fasilitas yang terbatas, dan citra olahraga kalangan atas membuatnya sulit diakses oleh masyarakat luas,” ungkap Andi, Kamis (25/9/2025).
Andi menegaskan, tantangan ke depan adalah bagaimana membuat padel lebih membumi agar tidak berhenti sebagai tren elit semata. Ia menawarkan sejumlah langkah yang bisa ditempuh, mulai dari demokratisasi akses dengan menghadirkan lapangan padel di ruang publik, kampus, sekolah, hingga taman kota.
Ia mencontohkan perkembangan futsal yang awalnya hanya tersedia di pusat perbelanjaan, lalu meluas hingga ke lapangan komunitas sederhana di gang-gang kota. Menurutnya, padel bisa mengikuti jejak serupa untuk menjadi olahraga yang merakyat.
Selain akses, biaya juga menjadi sorotan. Jika harga sewa lapangan tetap tinggi, padel dikhawatirkan hanya akan menjadi olahraga gaya hidup sesaat. Karena itu, ia mendorong model bisnis inovatif seperti klub komunitas dengan iuran rendah, subsidi silang melalui sponsor, serta kerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun lapangan berbasis publik.
Lebih jauh, Andi menekankan pentingnya program inklusi agar padel bisa dikenalkan ke berbagai kalangan masyarakat. Misalnya, memasukkan padel ke dalam kurikulum olahraga sekolah atau kegiatan ekstrakurikuler di SMP dan SMA. Dengan lapangan kecil dan permainan yang menyenangkan, padel dinilai potensial melahirkan ekosistem atlet dari akar rumput.
Tak kalah penting, menurutnya, narasi padel juga harus dibumikan. Ia mengingatkan bahwa olahraga ini lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari sebuah garasi sederhana di Meksiko. “Kita bisa belajar dari perjalanan olahraga lain di Indonesia. Futsal, misalnya. Dulu ia dianggap mahal, hanya ada di pusat kota, bahkan sempat dicap olahraga elit urban. Tetapi begitu lapangan-lapangan futsal komunitas dibangun, olahraga ini menjelma menjadi fenomena massal. Begitu pula badminton,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Andi menyebut padel bukan hanya soal olahraga baru, tetapi juga simbol kepemimpinan olahraga dalam memastikan inklusivitas. “Bahwa padel adalah cermin bahwa olahraga tidak boleh terjebak eksklusifitas. Karena sejatinya, olahraga adalah hak publik. Ia harus inklusif, membumi, dan memberikan manfaat sosial,” pungkasnya. [way/beq]






