Jember (beritajatim.com) – Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada 2025 sebesar Rp 1,072 triliun menempatkan Kabupaten Jember dalam tujuh daerah dengan pendapatan asli di atas Rp 1 triliun di Jawa Timur dan tertinggi di wilayah seluruh Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang).
Informasi ini diperoleh dari Badan Pendapatan Daerah Jember. Jember berada di urutan kelima PAD terbesar di Jatim. Peringkat pertama ditempati Surabaya dengan Rp 8,796 triliun, diikuti Kabupaten Sidoarjo (Rp 2,691 triliun), Kabupaten Gresik (Rp 1,544 triliun), dan Kabupaten Malang (Rp 1,210 triliun).
Jember mengalahkan PAD Kabupaten Bojonegoro yang dikenal sebagai daerah penghasil minyak (Rp 1,068 triliun) dan Kota Malang (Rp 1,035 triliun).
Sementara iru di kawasan Sekarkijang, PAD Jember jauh meninggalkan Banyuwangi (Rp 740,31 miliar), Lumajang (Rp 423,55 miliar), Situbondo (Rp 316,44 miliar), dan Bondowoso (Rp 300,22 miliar).
Bupati Muhammad Fawait senang hasil ini dicapai tanpa menaikkan pajak. “Kita enggak perlu menaikkan pajak. Pajak adalah jalan terakhir,” katanya, 6 Januari 2026.
Sejak awal, lanjut Fawait, Pemkab Jember berkomitmen membela orang kecil, terutama pedagang tradisional. “Karena merekalah yang harus kita lindungi dan merekalah yang ketika ada krisis atau ancaman krisis, yang menyelamatkan kita,” katanya.
“Filosofi pembangunan kita ke depan sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo adalah yang kecil harus kita lindungi, yang besar harus kita ayomi,” kata Fawait.
Fawait memilih untuk menutup kebocoran dan mengefektifkan capaian target. Dia meminta Kepala Badan Pendapatan Daerah Jember Achmad Imam Fauzi untuk menyiapkan personel yang tangguh.
“Siapkan orang-orang yang terbaik, yang kencang, yang lurus, yang tidak ada kompromi terkait masalah kebocoran dan terkait masalah efektivitas penarikan pajak atau retribusi dan lain sebagainya,” katanya.
“Alhamdulillah kita mendapatkan kejutan dan hal yang luar biasa sejak era otonomi daerah 26 tahun yang lalu, baru hari hari ini PAD Kabupaten Jembar tembus Rp 1 triliun. Kalau dibandingkan tahun sebelumnya yang kurang lebih Rp 774 miliar sekian, artinya ada lompatan sekitar 32 36 persen,” kata Fawait.
Capaian ini dipuji Ciplis Gema Qori’ah, ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember. “Saya pikir ini menjadi kabar baik. Ini indikasi bahwa Kabupaten Jember mampu meningkatkan pendapatannya dari pengelolaan aset daerah, dan beberapa potensi ekonomi bisa dimaksimalkan,” katanya, Rabu (21/1/2026). [wir]






