Malang (beritajatim.com) Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Oshika Maba) Universitas Islam Malang (Unisma) 2025 resmi ditutup pada Rabu (24/9/2025). Acara ini meninggalkan kesan mendalam bagi ribuan mahasiswa baru yang kini siap mengukir masa depan sebagai agen perubahan.
Kesan positif ini datang langsung dari para peserta yang merasa mendapatkan bekal berharga untuk beradaptasi di dunia perkuliahan. Salah satunya adalah Nadia Syahrani Rizal, mahasiswi baru Fakultas Kedokteran (FK) asal Jayapura, Papua.
“Kesan saya untuk Oshika 2025 ini sangat seru dan informatif. Para pembicara, tamu, hingga alumni yang hadir memberikan informasi yang sangat berguna bagi kami,” ujar Nadia.
Ia menambahkan, transisi dari kehidupan SMA ke universitas membutuhkan adaptasi, terutama dalam metode pembelajaran. “Informasi yang mereka berikan sangat membantu kami untuk menjalani kehidupan baru di universitas ini,” tuturnya dengan antusias.
Senada dengan Nadia, mahasiswa baru FK lainnya, Nadia Abirroh Lukman dari Banyuwangi, mengaku bahwa Oshika Maba 2025 berhasil melampaui ekspektasinya.
“Oshika berhasil memberikan kesan yang baik, menyenangkan, dan tidak membosankan. Semua materi yang disampaikan informatif, susunan acaranya rapi, dan banyak kegiatan menarik,” ungkap mahasiswi yang akrab disapa Biroh ini.
Bagi Biroh, memilih Unisma adalah keputusan yang mantap. Karena di Unisma, tidak hanya mendapat ilmu umum, tetapi juga ilmu agama.
“Sebagai seorang muslim, kita harus menyeimbangkan ilmu dunia dan akhirat. Itulah alasan saya memilih Unisma sebagai tempat menempuh pendidikan dokter,” jelasnya.
Antusiasme mahasiswa baru ini sejalan dengan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap Unisma. Wakil Rektor 3 Unisma, Dr. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Unisma menyambut total 5.961 mahasiswa baru pada tahun ini.
Angka tersebut mencakup 2.124 mahasiswa sarjana, di antaranya 90 mahasiswa asing dari berbagai negara, 3.837 mahasiswa program profesi, serta 147 mahasiswa pascasarjana.
“Angka ini menunjukkan betapa besar kepercayaan masyarakat, bangsa, bahkan dunia internasional kepada Unisma sebagai perguruan tinggi Islam unggulan,” tegas Dr. Yunus.
Ia berpesan bahwa menjadi mahasiswa adalah fase krusial. Mereka akan menjemput cita-cita dan menjadi fondasi transformasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Yunus juga mengingatkan para mahasiswa baru untuk melatih cara berpikir mereka. Mengutip pesan yang disampaikan alumni Unisma yang kini menjadi Anggota DPR RI, Aqib Ardiansyah, ia menjelaskan tiga tingkatan pikiran menurut Eleanor Roosevelt.

“Ada pikiran kecil yang membicarakan orang lain, pikiran sedang yang membahas peristiwa, dan pikiran besar yang mendiskusikan ide, gagasan, dan visi,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa Unisma harus membiasakan diri untuk menggunakan pikiran besar.
“Jika pikiran besar yang mendominasi, otak kita akan aktif memunculkan ide-ide segar, melahirkan terobosan baru, dan menemukan jalan perubahan yang bermanfaat. Jadilah generasi yang optimis, berpikir besar, dan membawa perubahan positif bagi masyarakat,” pesannya.
Ia mendorong seluruh mahasiswa untuk aktif mengembangkan diri tidak hanya di kelas, tetapi juga melalui organisasi, kewirausahaan, teknologi, seni, olahraga, dan pengabdian masyarakat.
“Berbanggalah karena kalian telah menjadi bagian dari keluarga besar Unisma yang hebat. Kampus ini akan mengantarkan kalian menjadi agen transformasi dan pemimpin masa depan bangsa,” tutupnya diiringi tepuk tangan meriah. [dan/aje]






