Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) memulai Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Oshika Maba) 2025 dengan gebrakan berbeda. Mengusung tema “Maba Unisma Berdampak: Peduli Sosial, Lestari Lingkungan”, sebanyak 5.961 mahasiswa baru diajak untuk langsung memberikan dampak nyata bagi masyarakat juga lingkungan sekitar.
Pembukaan Oshika Maba 2025 yang digelar di Gedung Bundar Al Asy’ari Unisma pada Senin (22/9/2025) menjadi penanda dimulainya komitmen Unisma untuk mencetak generasi yang unggul secara intelektual. Maba Unisma diajak peka terhadap isu-isu sosial maupun isu lingkungan.
Wakil Rektor 3 Unisma, Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd., menjelaskan bahwa tema ini selaras dengan tuntutan Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendikti Saintek). Kementerian saat ini mendorong perguruan tinggi untuk memberikan dampak dan berorientasi internasional.
“Kami memulai dari mahasiswa baru. Di awal perjalanan mereka, mahasiswa sudah kami ajak untuk berdampak,” ujar Dr. Yunus kepada beritajatim.com saat sesi wawancara.
Sebagai bukti nyata, sebelum acara pembukaan, para mahasiswa baru telah melakukan aksi peduli lingkungan di 50 titik strategis di sekitar kampus, seperti wilayah Dinoyo dan Tlogomas. Mereka membersihkan gorong-gorong, merapikan fasilitas umum, serta berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah lingkungan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Hasil diskusi dan temuan di lapangan ini tidak akan berhenti di situ. Aspirasi mereka akan kami sampaikan langsung kepada salah satu alumni Unisma yang kini menjadi anggota DPR RI, Aqib Ardiansyah, pada hari Rabu mendatang,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Rektor Unisma periode 2024-2028, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd, Ph.D., menyatakan bahwa Oshika Maba dirancang untuk membentuk tiga pilar karakter utama mahasiswa.

“Pertama, penguatan karakter kebangsaan untuk meningkatkan cinta tanah air. Kedua, karakter kecendekiaan melalui pengenalan kurikulum dan pengembangan minat bakat. Ketiga, pengembangan karakter keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah melalui program Halaqoh Diniyah,” papar Prof. Junaidi.
Rektor juga menyoroti keragaman mahasiswa baru Unisma tahun ini yang menjadi cerminan Indonesia mini. Sebanyak 5.961 mahasiswa baru terdiri dari 2.124 mahasiswa program sarjana yang berasal dari 33 provinsi, 3.837 mahasiswa program profesi, serta mahasiswa pascasarjana dan RPL.
Selain itu, Unisma juga menerima 90 mahasiswa internasional dari tujuh negara, antara lain Timor-Leste, Mesir, Sudan, dan Afghanistan.
Secara khusus, Unisma menunjukkan komitmennya pada pendidikan inklusif dengan memberikan akses seluas-luasnya bagi mahasiswa difabel.
Salah satunya adalah Anggun, mahasiswi baru dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia asal Lumajang, yang merupakan penerima KIP Kuliah. “Kami memfasilitasi dan memberikan akses seluas-luasnya untuk bisa mengenyam pendidikan di Unisma. Tidak boleh ada halangan,” tambah Dr. Yunus.
Dengan status sebagai perguruan tinggi swasta peringkat 2 di Jawa Timur dan peringkat 15 secara nasional, Prof. Junaidi menegaskan bahwa pilihan para mahasiswa baru untuk berkuliah di Unisma adalah keputusan yang tepat untuk meraih masa depan yang berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
“Kami harap melalui Oshika Maba dan dilanjutkan dengan Halaqoh Diniyah, maba Unisma bisa memberi dampak, saudara, prodi, perguruan tinggi, pada masyarakat sekitar, juga berdampak pada bangsa Indonesia, bahkan juga masyarakat Dunia,” kata Prof Junaidi di hadapan ribuan maba Unisma. [dan/aje]






