Surabaya (beritajatim.com) – Melandainya kasus Covid-19 di Indonesia membuat bisnis properti mulai bergerak. Salah satunya, PT Intiland Development Tbk yang semakin optimis industri properti di Indonesia makin agresif tahun ini.
Meski stimulus bakal berakhir, permintaan masyarakat terhadap produk residensial masih tinggi. Pengembang pun mengaku bahwa harga properti bakal kembali naik karena kondisi tersebut.
Direktur Pemasaran Intiland Harto Laksnono mengatakan, pertumbuhan industri properti Indonesia di awal tahun memang sedikit melambat. Namun, permintaan kembali meninggi dalam beberapa bulan terakhir.
’”Dalam pemulihan, papan memang menjadi kebutuhan pokok dalam urutan terakhir. Jadi, jika ekonomi pulih, masyarakat bakal memikirkan pangan, sandang, baru bicara papan,’’ jelasnya.
Namun, dia yakin bahwa pertumbuhan selama 2022 bakal sesuai dengan target. Perusahaan tersebut menargetkan bisa mencatat penjualan 2,4 triliun tahun ini. Target tersebut naik 47 persen jika dibanding dengan realisasi 2021.
Hal tersebut juga terlihat dalam marketing sales Intiland selama kuartal I yang mencapai Rp 500 miliar. Angka itu bahkan tumbuh 61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”intiland”]
’’Kita melihat ekonomi makro kita sudah tumbuh banyak. Karena itu, kami juga mengikuti arus tersebut,’’ paparnya.
Sebagai salah satu efek dari kondisi tersebut, pihaknya pun mengaku bahwa harga properti sudah mulai menanjak. Dia mengatakan produk-produk yang bakal dlincurkan bakal lebih mahal 5 persen. Hal tersebut untuk menyamai kenaikan harga bahan baku selama tahun ini.
Selama pandemi, lanjut dia, pengembang memang berupaya untuk menahan harga. Hal tersebut karena masyarakat juga masih ragu merogoh kocek terlalu dalam. Karena itu, pasar rumah dengan kisaran harga Rp 1 miliar – 2 miliar paling laku selama 2021. ’’Kalau tahun ini, kita lihat banyak industri sudah bangkit. Jadi, kami menyesuaikan harganya,’’ paparnya.
Harto pun mengaku bakal meluncurkan produk rumah di kisaran Rp 2 miliar – 5 miliar. Meski tak selaku pasar menengah ke bawah, dia mengaku bahwa peminat segmen tersebut sudah muncul.
’’Yang jadi PR memang properti high rise. Sampai saat ini kami tidak melihat pertumbuhan yang signifikan. Karena end user yang mendominasi pembelian masih senang rumah tapak,’’ tandasnya. [rea]






