Malang (beritajatim.com) – Perhelatan akbar bagi insan vokasi Tanah Air, Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) ke-10, resmi dibuka di Universitas Brawijaya (UB) pada Rabu (30/7/2025). Selama tiga hari dimulai pada Selasa (29/7/2025) dengan gala dinner dan berakhir pada Kamis (31/7/2025), sebanyak 400 tim mahasiswa finalis dari seluruh Indonesia beradu gagasan dan keterampilan memperebutkan gelar juara dalam ajang kompetisi vokasi paling bergengsi ini.
Mengusung tema “Unlocking the Wonders of Tomorrow: Bridging Innovation and Sustainability,” acara yang diselenggarakan oleh Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) ini menjadi panggung kolaborasi nasional. Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, yang menandakan eratnya hubungan antara dunia pendidikan dan industri profesional.
Dekan Fakultas Vokasi UB selaku tuan rumah, Mukhammad Kholid Mawardi, Ph.D., menyatakan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan. Menurutnya, UB terpilih setelah melalui berbagai pertimbangan dan dinilai mampu menyelenggarakan final kompetisi yang melibatkan 1.043 proposal awal.
“Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi momentum kolaborasi nasional untuk menciptakan solusi yang berdampak bagi pembangunan berkelanjutan. Kami berharap akan muncul talenta-talenta unggul dengan ide kreatif, mulai dari business plan, aplikasi, hingga desain grafis yang menjawab kebutuhan industri,” ujar Kholid.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua Umum FPTVI, Prof. Dr. Ir. Muh. Restu, M.P. Ia menegaskan bahwa OLIVIA adalah wadah strategis untuk memperkuat daya saing pendidikan vokasi.
“OLIVIA memiliki karakter vokasional yang khas, berbeda dari ajang lain. Ini adalah cara kita menyatukan perguruan tinggi vokasi se-Indonesia agar saling menguatkan. Ajang ini terus berkembang, baik dari jumlah peserta maupun partisipasinya,” jelas Prof. Restu.
Di sisi lain, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyoroti peran krusial OLIVIA dalam mencetak talenta di bidang digital dan artificial intelligence. Ia menegaskan, pendidikan vokasi harus menjadi ujung tombak jika Indonesia ingin menjadi negara industri.
“Pendidikan vokasi sering dianggap pilihan kedua, padahal lulusannya memiliki skill dan link and match yang lebih baik dengan industri,” tegasnya.
Prof. Widodo juga memberikan pandangan kritis terkait kebijakan nasional. “Dana Abadi yang besar seharusnya fokus untuk membangun ekosistem industri yang kuat mulai dari regulasi, bahan baku, hingga industri pendukung, bukan sekadar mendirikan universitas baru.”
Sebagai bukti komitmen UB, ia mengumumkan rencana pembangunan kampus vokasi terpadu seluas 30 hektare di Kepanjen. “Kami akan besarkan vokasi di UB. Pembangunan kampus megah ini akan dimulai tahun ini sebagai wujud keseriusan kami,” ungkap Rektor.

Atmosfer kompetisi begitu terasa di antara para peserta. Salah satunya tim dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berlaga di cabang patisserie. Rizky Aliwira Ramaliah dan Muhammad Yusuf Dillahamsa menjelaskan konsep mereka yang mengangkat kearifan lokal.
“Konsep kami adalah inovasi kuliner tradisional yang dimodernkan. Kami menggunakan bahan utama apel Malang untuk diolah menjadi berbagai jenis pastry,” kata Rizky. Bagi mereka, OLIVIA adalah penyemangat.
“Target kami tentu ingin menang, tapi yang lebih penting acara ini membangkitkan semangat inovasi mahasiswa dan menjadi ajang untuk memperkenalkan kekhasan daerah masing-masing,” tambah Yusuf.
Kemenangan di OLIVIA X memiliki nilai lebih. Dekan Kholid Mawardi menjelaskan bahwa prestasi peserta akan dicatat secara resmi oleh Kementerian melalui SIMKATMAWA, yang dapat diklaim sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) oleh perguruan tinggi.
“Ini, ditambah data serapan lulusan vokasi yang mencapai 80-85% di dunia industri, membuktikan bahwa ekosistem yang kita bangun ini sangat relevan dan berjalan efektif,” tutupnya. (dan/but)






