Jember (beritajatim.com) – Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko menolak mengomentari penolakan sejumlah kalangan terhadap tim nasional (timnas) sepak bola Israel untuk hadir dalam turnamen Piala Dunia U20 di Indonesia. Pemerintah akan melakukan pendekatan.
“Saya tidak menanggapi penolakannya. Tapi saya ingin menyampaikan bahwa upaya untuk kita menjadi tuan rumah (butuh) sebuah perjuangan panjang. Tahun 2019 dalam pertemuan di Shanghai, disetujuilah Indonesia menjadi tuan rumah,” kata Moeldoko, usai memberikan kuliah umum di kampus Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (24/3/2023).
“Kalau kita bicara olahraga, biasanya aspek politiknya tidak banyak dipikirkan, sehingga waktu itu tawaran kita menjadi tuan rumah disetujui,” kata Panglima Tentara Nasional Indionesia 2013-2015 ini kepada wartawan.
Moeldoko menjelaskan, pemerintah melalui Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan sudah menggelar rapat membahas hal tersebut. “Ada langkah-langkah pendekatan yang akan dilakukan. Baik kepada organisasi sepak bola dunia FIFA maupun yang lain-lain. Sehingga nanti mungkin ada solusi atau bagaimana kita tunggu saja,” katanya.
Penolakan terhadap kehadiran timnas Israel ke Indonesia beberapa pekan ini semakin menguat. Tak hanya organisasi dan partai Islam seperti Majelis Ulama Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Persatuan Pembangunan yang menolak, tapi juga PDI Perjuangan Jawa Timur dan PDI Perjuangan Kota Surabaya. Bahkan Gubernur Bali Wayan Koster dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menolak.
PDI Perjuangan Jawa Timur mengingatkan, pada masa Presiden Soekarno, pemerintah Indonesia tidak memberikan visa kedatangan untuk delegasi Israel yang akan mengikuti Asian Games 1962. Indonesia lebih memilih membayar denda kepada Komite Olimpiade Dunia daripada menerima delegasi atlet Israel.
“Sikap Presiden Soekarno di atas sebagai cermin konsistensi Indonesia dalam melawan dan menghapuskan segala bentuk penjajahan, dan kolonialisme di muka bumi,” kata Pelaksana Tugas Ketua PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah, Rabu (22/3/2023). [wir]






