Inilah kisah para wanita – wanita tangguh yang mengabdikan hidupnya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat disekitarnya
Gresik (beritajatim.com) – Siang ini Nur Mahmudah agak tergesa-gesa. Mengenakan baju gamis berwarna pink dipadu-padankan dengan jilbab berwarna abu-abu dirinya melangkah menyisiri jalanan desa.
Dirinya harus berhati-hati menyisir jalanan desa, bukan karena jalanan yang becek karena hujan semalaman. Melainkan karena genangan air di jalanan desa yang sudah beraspal yang sering menciprati pejalanan kaki, saat pengendara melintas dengan kencang.
Langkahnya terhenti di depan rumah warga yang dindingnya rumahnya berkeramik merah bata pupus.
“Assalamualaikum” teriaknya riang sesampai didepan teras. Dan di sambut dengan sambutan salam dari ibu-ibu yang sedang memasak 2 panji besar kunyit asem di sudut teras rumah itu.
“Bagaimana bu, sudah siap untuk di icip?,” tanya Nur Mahmudah yang akrab dipanggil Mbak Nurul oleh 5 orang ibu-ibu yang sedang memasak kunyit asam.
Tanpa berkata, seorang wanita paruh baya berjilbab pink membuka tutup panji. Aroma kunyit asam yang khas menyeruak dari panji yang bagian dalamnya terlihat berwarna kuning, agaknya panji besar ini telah sering digunakan memasak kunyit.
“Sepertinya kurang asam sedikit bu, tambahi asamnya sedikit lagi ngeh (ya-red),” ucap Nurul ketika usai mencicipi satu sendok ramuan kunyit asam yang disodorkan padanya.
Dengan sigap ibu-ibu yang lain menambahkan asam jawa yang sudah mereka cairkan kedalam panji. Koreksi rasa pun kembali dilakukan Nurul.
“Pass,” katanya tersenyum puas. “Nanti setelah dikemas langsung diantar ke saya ya bu,” tambahnya yang diikuti senyum lebar para ibu-ibu.
Nurul memang cukup ketat dalam urusan quality control. Karena kunyit asam tidak hanya di produksi oleh segelitir anggota. Melainkan ada 16 rumah tangga yang melakukan produksi secara bergantian.
“Jika tidak sesuai dengan standar rasa yang sudah ditetapkan saya terpaksa harus menolak. Karena jaminan kami khan rasanya sama walaupun rumah produksinya berbeda-beda,” akunya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Bumdes”]
Rutinitas itu dilakukannya saat menerima banyak pesanan dari warung-warung yang ada di Desa Sidoraharjo Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik.
Meskipun masih dalam situasi pandemi Nurul bersyukur bisa kembali menekuni rutinitasnya yang dulu sempat terhenti.
“Terhentinya bukan karena pandemi, tapi karena adanya pergantian kepala desa dan manajemen Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) pun ikut berhenti karena sekretaris Bumdes, jadi carik (sekretaris desa-red),” kenang wanita kelahiran 1993 lalu itu.
Usaha Bumdes berupa kunyit asam dan beras kencur yang dimulai di tahun 2018 lalu itu memang sempat vakum selama 1 tahun. Hingga akhirnya Kepala Desa, Suwoto memanggil pengurus Bumdes untuk kembali mengembangkan usaha desa yang sudah menjadi ikon di Sidoraharjo itu.
“Sebelum vakum saya menjabat menjadi bendahara Bumdes Sidoraharjo dan waktu itu pelanggan kami cukup banyak. Namun karena pemilihan Kades menyita waktu, kami pun terpaksa berhenti produksi,” jelasnya.
Setahun tak produksi membuat banyak usaha rumah tangga perorangan mengambil alih suplay jamu kunyit asam di warung-warung yang menjadi langganan Bumdes Sidoraharjo.
“Harga mereka juga lebih murah, yakni 5 ribu per botol 500 ml. Sementara warung menjual produk kami biasanya 6 ribu. Nah saat pak lurah (panggilan untuk kepala desa-red) meminta kami kembali aktif, saya juga ragu karena semua pelanggan sudah beralih,” kenangnya.
Meskipun ragu, Nurul tetap nekat bersedia kembali terlibat aktif membangkitkan kembali usaha Bumdes Sidoraharjo. Bersama Ketua Bumdes Khusnan Hadi serta Sekretaris Ovi Faturrahman, Nurul mulai menghidupkan kembali produksi di 16 rumah yang sempat dia tinggalkan.
Memulai kembali usaha yang sudah hancur tentu tak mudah, untungnya beberapa pemilik warung masih mau dititipi Kunyit Asam Sidoraharjo. Kualitas rasa pun mulai mereka tingkatkan demi bersaing dengan produk serupa yang lebih murah.
Pesanan kembali mulai berdatangan dan produksi setiap minggu sudah mencapai angka ratusan botol. 16 UMKM pembuat Kunyit Asam Bumdes Sidoraharjo secara bergiliran sudah mulai produksi kembali.
“Sempat para 16 UMKM ini ragu dan minta untuk membuat merek mereka sendiri-sendiri. Tetapi saya yakinkan jika jalan sendiri, kekuatan marketing kita terbatas,” ungkap perempuan lulusan SMK jurusan Akuntasi ini.
Upaya kembali bangkit ini ternyata mendapat perhatian dari BRI Unit Sidoraharjo dan pada tahun 2021 memenangkan kompetisi Srikandi BRI yang hadiahnya sebesar Rp 100 juta. Tentunya yang diberikan BRI bukanlah uang melainkan berbagai macam kebutuhan produksi mulai dari panji, kompor, cup sealer hingga pelatihan manajemen.
“Semenjak bertemu bu Ika dan kawan-kawannya dari BRI saya semakin semangat terus berupaya menguatkan kualitas produk dan mencari pasar baru. Modal nekat kami ternyata berbuah manis,” tandasnya.
Kini usaha Bumdes Kunyit Asam Sidoraharjo mulai bangkit dan kedepan akan melakukan pengurusan PIRT dengan target kunyit asam mereka bisa dipasarkan ke luar wilayah Sidoraharjo. Sebuah usaha nekat yang menghasilkan semangat baru dari seorang ibu rumah tangga. [rea]






