Ponorogo (beritajatim.com) – Ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa, tidak selalu identik dengan berburu takjil.
Di Kabupaten Ponorogo, sekelompok pemuda memilih cara berbeda, yakni dengan berlatih wayang kulit dan karawitan.
Kegiatan ini, bukan hanya untuk mengisi waktu, tetapi juga sebagai upaya menjaga tradisi dan mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gadget.
Hal inilah yang terlihat di Desa Wotan, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Sejumlah pemuda berkumpul untuk memainkan gamelan dan berlatih mendalang. Salah satu di antaranya adalah Muhammad Irsyad Pandu Putra Susilo, seorang remaja 17 tahun yang sejak kecil sudah menekuni seni pedalangan.
Semangatnya dalam melestarikan budaya Jawa tak pernah luntur. Pemuda yang kini menempuh pendidikan di SMKN 8 Surakarta jurusan Seni Dalang itu, tak ingin kesenian wayang semakin tergerus oleh zaman.
Bagi Pandu, mengisi waktu dengan berlatih wayang bukan sekadar hobi, melainkan juga bentuk dedikasi terhadap budaya. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik pada kesenian tradisional dan mau meneruskannya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa wayang kulit tetap relevan. Ini cara kami mengasah kemampuan sekaligus memperkenalkan budaya Jawa kepada teman-teman seusia,” ujar Pandu.
Kegiatan ngabuburit seperti ini diharapkan bisa menginspirasi para pemuda untuk lebih produktif, sekaligus menjaga warisan budaya yang hampir terlupakan. Dengan adanya inisiatif seperti ini, seni pedalangan dan karawitan masih memiliki harapan untuk tetap hidup di tengah arus modernisasi.
“Kegiatan ini bukan hanya untuk ngabuburit, tetapi juga untuk melatih kemampuan seni tradisi agar tetap lestari,” kata Rinda Ayu, salah seorang warga yang turut menyaksikan latihan tersebut.(end/ted)






