Piala Dunia 1990 di Italia memiliki kualitas permainan paling rendah sepanjang sejarah. Jumlah gol per pertandingan menjadi yang terendah dalam sejarah turnamen tersebut: 2,21 gol per pertandingan, dengan total 115 gol yang tercipta dari 52 laga yang dimainkan.
Jumlah gol yang sangat sedikit ini menunjukkan dominasi permainan defensif. Banyak tim lebih memilih berhati-hati daripada menyerang yang diiringi kerasnya permainan yang membuat wasit mengeluarkan 16 kartu merah sepanjang turnamen.
Permainan keras terlihat dalam kemenangan Jerman Barat atas Argentina di partai puncak di Roma. Babak pertama berjalan datar tanpa banyak hiburan.
Kartu merah untuk dua pemain Argentina, Pedro Monzon dan Gustavo Dezotti, pada babak kedua mencerminkan bagaimana gaya permainan Tim Tango sepanjang turnamen. Di bawah asuhan pelatih Carlos Bilardo, mereka lebih mengandalkan pertahanan kuat, semangat juang, serta keberhasilan dalam adu penalti.
Namun disiplin mereka sering dipertanyakan dengan banyaknya kartu kuning dan merah yang diterima selama turnamen, Sentuhan magis Diego Maradona tidak sehebat empat tahun sebelumnya. Tidak ada permainan atraktif dalam Piala Dunia kali ini.
Gol penentu kemenangan lahir dari titik penalti melalui kaki Andy Brehme, setelah pelanggaran yang masih diperdebatkan terhadap Rudi Voller. Namun hasil tersebut dianggap pantas karena sepanjang turnamen Jerman Barat tampil lebih baik,
Kemenangan ini juga mengukuhkan nama Franz Beckenbauer dalam sejarah sepak bola dunia sebagai orang pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia baik sebagai kapten maupun sebagai pelatih.
Kendati membosankan, Piala Dunia 1990 masih menghadirkan sekian kejutan. Diawali dengan kemenangan Kamerun atas Argentina di Stadion San Siro, Milan, dalam penyisihan Grup A. Meskipun bermain keras dan kehilangan dua pemain akibat kartu merah, Kamerun mampu mempertahankan keunggulan melalui gol François Omam-Biyik.
Kamerun kemudian mengalahkan Rumania dan lolos sebagai juara grup kendari dikalahkan Uni Soviet pada pertandingan terakhir. Justru Argentina yang lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.
Kejutan Kamerun tak berhenti di sana. Mereka berhasil mengalahkan Kolombia 2-1 di Babak 16 Besar. Roger Milla, penyerang veteran yang menjadi ikon turnamen, mencetak dua gol pada perpanjangan waktu dan membawa Kamerun ke perempat final sebagai tim Afrika pertama yang mencapai tahap tersebut.
Kamerun dinanti Inggris yang menyingkirkan Belgia melalui gol indah David Platt pada detik-detik akhir perpanjangan waktu Babak 16 Besar. Sebelumnya dalam penyisihan Grup F, Inggris menjadi pemuncak klasemen dengan menghadapi perlawanan ketat dari Belanda, Republik Irlandia, dan Mesir.
Pertandingan antara Inggris dan Kamerun ini disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan terbaik sepanjang turnamen. Setelah tertinggal 1-2, Inggris bangkit dan menang 3-2 melalui perpanjangan waktu.
Bukan hanya Kamerun yang menghadirkan kejutan. Lolosnya Kosta Rika sebagai runner-up Grup C membuat publik tercengang. Mereka berhasil mengalahkan Skotlandia 1-0 dan Swedia 2-1, dan hanya kalah 0-1 dari Brasil. Perjalanan mereka terhenti di babak 16 Besar setelah digulung Cekoslowakian 1-4.
Brasil juga tersingkir di Babak 16 Besar setelah dikalalahkan Argentina 0-1. Kendati mendominasi pertandingan, banyak peluang Selecao yang digagalkan kiper Argentina Sergio Goycochea. Aksi brilian Maradona yang melewati beberapa pemain lawan diakhiri dengan assist untuk Claudio Caniggia yang mencetak gol kemenangan.
Di pertandingan lain, Jerman Barat mengalahkan Belanda dengan skor yang sama seperti final tahun 1974. Namun laga itu lebih dikenang karena insiden antara pemain Belanda Frank Rijkaard dan pemain Jerman Barat Rudi Voller.
Di bawah pelatih Jack Charlton, Republik Irlandia untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Piala Dunia berhasil menembus perempat final setelah mengalahkan Rumania 5-4 melalui adu penalti. Tuan rumah Italia kemudian menghentikan langkah tim berkostum hijau ini dengan skor 1-0.
Sementara itu Argentina lolos ke semifinal setelah menyingkirkan Yugoslavia 3-2 melalui adu penalti. Jerman Barat mengalahkan Cekoslowakia berkat penalti Lothar Matthäus di babak perempat final.
Babak semifinal mempertemukan empat mantan juara dunia. Dalam pertandingan di Napoli, Schillaci membawa Italia unggul lebih dulu atas Argentina, Namun Caniggia menyamakan kedudukan.
Setelah perpanjangan waktu tanpa gol tambahan, Argentina menang melalui adu penalti. Maradona berhasil menjalankan tugasnya, sedangkan Aldo Serena tertunduk lesu setelah gagal mengeksekusi bola.
Semifinal lainnya mempertemukan Inggris dan Jerman Barat. Pertandingan berlangsung sengit. Jerman unggul melalui tendangan bebas yang berbelok arah, sebelum Gary Lineker menyamakan kedudukan.
Momen paling dikenang adalah ketika Paul Gascoigne menangis setelah menerima kartu kuning yang membuatnya akan absen di final jika Inggris lolos.
Pertandingan diakhiri dengan adu penalti juga. Stuart Pearce gagal mengeksekusi penalti, sementara tendangan Chris Waddle melambung jauh di atas mistar. Jerman Barat pun melaju ke final.
Dalam pertandingan perebutan tempat ketiga, Italia berhasil mengalahkan Inggris 2-1. Gol Schillaci dalam pertandingan itu memastikan dirinya menjadi pencetak gol terbanyak turnamen dengan enam gol.
Salvatore Schillaci meraih Golden Boot dengan mencetak enam gol dan pemain terbaik (Golden Ball) turnamen. Dia mencetak gol ke gawang enam negara yang berbeda sepanjang turnamen tersebut, melengkapi keindahan lagu “Nessun Dorma” yang dipopulerkan Luciano Pavarotti. [wir/kun]






