Ponorogo (beritajatim.com) – Memasuki musim penghujan, intensitas bencana tanah longsor di Kabupaten Ponorogo terus meningkat. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat, sedikitnya 60 kejadian longsor dilaporkan sepanjang bulan Oktober hingga bulan November 2024. BPBD Ponorogo terus melakukan upaya mitigasi bencana, dengan cara mengintensifkan pemantauan daerah-daerah di Bumi Reog yang rawan atau berpotensi longsor.
“Sebagai langkah mitigasi, BPBD Ponorogo terus melakukan pemantauan intensif di titik-titik rawan dan berpotensi longsor,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, Jumat (06/12/2024).
Masun mengungkapkan bahwa 2 lokasi terdampak longsor paling parah adalah Desa Banaran, Kecamatan Pulung, dan Dusun Sekodok, Desa/Kecamatan Ngebel. Di Desa Banaran, material longsoran menutup jalan utama yang menjadi akses vital menuju permukiman warga. Situasi serupa juga terjadi di Dusun Sekodok, Kecamatan Ngebel, di mana longsor yang terjadi sejak akhir November mengisolasi beberapa wilayah akibat tertutupnya akses jalan.
“Pasca longsor itu, tim gabungan dari BPBD, TNI dan Polri serta masyarakat melakukan pembersihan material longsor yang menutupi jalan,” katanya.
Dia menyebut bahwa Desa Banaran saat ini menjadi perhatian khusus karena telah teridentifikasi sebagai daerah rawan longsor oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. Meski belum berstatus darurat, Masun mengingatkan bahwa potensi bahaya sekunder berupa banjir bandang cukup tinggi.
“Jika longsoran material menghambat aliran sungai, risiko banjir bandang bisa meningkat signifikan,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD bersama tim gabungan terus melakukan pemantauan intensif di titik-titik rawan longsor. Evakuasi serta upaya pembersihan material longsor juga dilakukan secara bertahap untuk memulihkan aksesibilitas. Dalam kondisi ini, masyarakat yang tinggal di kawasan berpotensi bencana diimbau untuk selalu waspada, khususnya selama musim hujan yang masih berlangsung.
“Kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat sangat penting untuk mengurangi dampak bencana,” tutup Masun. [end/but]






