Jombang (beritajatim.com) – Puluhan bus melaju perlahan meninggalkan area parkir makam Gus Dur di Tebuireng, Jombang, pada Rabu pagi, 11 Maret 2026. Bus-bus tersebut membawa ribuan santri dari Pondok Pesantren Tebuireng menuju kampung halaman mereka untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Mereka menyusuri Jalan Raya Cukir, menuju Jl Irian Jaya, lalu melanjutkan perjalanan ke gerbang tol Trans Jawa.
Di sepanjang jalan, pengurus Pondok Pesantren Tebuireng berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan dengan penuh kasih, melepas kepergian ribuan santri. Di antara mereka, tampak pengasuh pesantren KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, bersama dengan KH Fahmi Amrullah Hadzik, pengasuh Pesantren Tebuireng Putri.
Bus-bus itu menderu pelan, sementara santri-santri di dalamnya juga melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan pengurus pesantren.
Haidar, seorang santri berusia 15 tahun asal Bojonegoro, tampak bersuka cita. Sejak pukul enam pagi, ia sudah bersiap dengan tas besar berisi pakaian di pundaknya. Haidar, yang bersekolah di SMP A Wahid Hasyim Tebuireng, sangat menantikan liburan panjang selama tiga minggu ini.
“Tanggal empat April kembali ke pesantren. Libur selama tiga minggu,” ungkap Haidar, dengan senyum lebar, merasa sangat bahagia dapat pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga.
Pada pukul delapan pagi, bus-bus yang mengangkut para santri mulai berangkat menuju berbagai tujuan di seluruh Indonesia. Sebuah spanduk bertuliskan “Pulang Bareng Pesantren Tebuireng” terpasang di barisan paling depan, menandai perjalanan penuh doa dan harapan.

Sekitar 3.000 santri, yang terangkut dalam 78 unit bus, akan menuju berbagai daerah, dari Pulau Jawa hingga Sumatra dan NTB. Mereka akan berlibur selama tiga minggu dan kembali ke pesantren pada 4 April 2026.
KH Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh Pesantren Tebuireng, menjelaskan bahwa mudik bareng ini merupakan kegiatan yang melibatkan sekitar 3.300 santri, dari total 9.000 santri yang ada. Mereka tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur, serta ke berbagai daerah di Pulau Jawa, Jabodetabek, Sumatra, dan NTB.
Gus Kikin juga menegaskan pentingnya para santri untuk tetap menjaga nilai-nilai agama yang telah mereka pelajari di pesantren selama liburan. “Pesan-pesan seperti itu sudah kita sampaikan kepada santri yang pulang kampung,” ujarnya.
Gus Kikin berharap para santri tidak hanya menikmati liburan, tetapi juga dapat menerapkan nilai tata krama dan adab yang mereka pelajari di masyarakat. “Nilai tata krama dan adab harus tetap dijaga selama berada di lingkungan masyarakat,” tambahnya. [suf]






